May
30
MAT Bloger mendadak datang dengan paras memerah seperti kerbau disunat. Matanya melotot. Mulutnya berbusa-busa. Tak henti-hentinya dia mengumpat dan memberondongkan sumpah serapah.
“Asem, semprul, sontoloyo. Rumah sakit macam apa itu? Bukannya menolong orang sakit, malah mengirimkan mantan pasiennya ke penjara,” begitu Mat Bloger melontarkan makian.
Saya kaget. Kenapa Mat Bloger mendadak berang tanpa ada angin dan hujan. Sambil meletakkan koran yang sedang saya baca, saya pun menyapa dia. “Waduh, ada apa gerangan, Mat? Kenapa sampean tiba-tiba marah-marah begini? Kalah taruhan?”
“Bukan, Mas,” jawab Mat Bloger. “Saya marah karena ada ibu rumah tangga yang ditahan gara-gara menulis e-mail.”
“Kok bisa, Mat? Apa masalahnya?”
Mat Bloger lalu menuturkan kisah tentang Prita Mulyasari, yang sejak 13 Mei lalu dititipkan Kejaksaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang. Ia menjadi tahanan dalam kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit Internasional Omni, Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan.
“Kenapa dia dianggap mencemarkan nama baik, Mat?”
Mat Bloger mengatakan kasus ini bermula dari surat elektronik Prita pada 7 Agustus 2008. Surat itu berisi keluhannya ketika ia dirawat di Omni. Surat yang semula hanya dikirim ke beberapa temannya itu ternyata beredar ke pelbagai milis dan forum di Internet, dan diketahui oleh manajemen Rumah Sakit Omni.
PT Sarana Mediatama Internasional, pengelola rumah sakit itu, rupanya menganggap nama baiknya tercemar oleh surat tersebut. Mereka lalu menggugat Prita, baik secara perdata maupun pidana. Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan Prita kalah dalam gugatan perdata. Sedangkan sidang pidananya akan berlangsung pekan depan.
“Terus terang saya merasa prihatin dan bersimpati terhadap Prita, Mas,” kata Mat Bloger. “Saya merasa dia tak layak dihukum seberat itu, bahkan sampai masuk penjara. Ini jelas teror bagi kita, konsumen, yang sering kali diperlakukan tak layak dan tak adil, tapi ketika mengeluh, malah dituduh mencemarkan nama baik.”
“Setuju, Mat. Ini teror. Kita harus melawan. Tapi mungkin juga ada hikmahnya buat kita. Kasus yang dialami Prita bisa menimpa siapa saja, saya atau sampean, juga blogger lain yang kerap menulis keluhan terhadap sebuah produk atau layanan di blognya.
Supaya kita terhindar dari jeratan hukum atau setidaknya mengurangi akibat yang lebih fatal, sampean perlu tahu caranya. Kiat ini penting karena sebagai blogger, sampean tentu tak bisa menghindar dari tuntutan hukum atas segala aktivitas yang sampean publikasikan.
Pertama, sampean tak perlu mencari perhatian dengan membuat judul tulisan yang terlampau provokatif semata-mata demi sensasi dan lonjakan traffic. Cara seperti ini bisa-bisa malah menjadi bumerang untuk kita.
Fokuskan tulisan pada masalah yang sampean alami atau keluhkan, dan bukan terhadap orang/lembaganya. Kritiklah kinerja atau layanan mereka, bukan menjelekkan namanya.
Meski mengritik, sebaiknya sampean juga memberikan solusi. Sampaikan kritik dengan bahasa yang santun agar orang yang dikritik tak merasa terhina dan marah. Lalu jangan segan meminta maaf. Jika kritik atau keluhan sampean ternyata salah, sebaiknya segera meminta maaf.
Terakhir, kalau sampean hendak mengkritik, sebaiknya sampean juga harus siap menerima masukan atau keberatan pembaca. Dengan cara itu, kita mungkin akan terhindar dari komplikasi hukum yang tak perlu.”
surat pembaca dudah menelan korban
milis ikut juga…
mudah2an cukup 2 itu saja menjadi pelajaran buat semuanya.
nambahin dikit Mat….
biasakan ketika menulis suatu kritikan atas layanan apapun dalam kondisi yang stabil/ tdk sedang emosional/menulis dengan hati, agar supaya tujuan penulisan tercapai, seandainya dengan terpaksa menyebutkan orang atau instansi terntu biasakan dengan INITIAL, yah kayak model-model TEMPO…si anu misalnya.
turut prihatin
bapakeghozan
saya ikut prihatin atas penderitaan ibu prita.
saya berharap ada tindakan nyata yang dapat dilakukan instansi terkait baik dari pemerintahan maupun dari lembaga sepeti YLKI. saya juga berharap para pakar hukum dinegri ini untuk meninjau ulang sistem hukum yg kita yg kadang nyeleneh. kasus ibu prita, si-raju (anak kcl y mau di meja hijaukan)adalah indikasi adanya kesalahan dlm sistem hukum tersebut. terimakasih atas saran dari mat bloger. awalnya saya berpendapat bahwa kita di jaman republik yg merdeka ini punya kebebasan untuk mengungkapkan pendapat kita. kasus ibu prita rupanya mematahkan pendapat saya. Ada sesuatu yang aneh pada RS**, memenjarakan ibu pelanggan (pelanggan) bukanlah tindakan pemulihan nama baik. saya menduga RS tersebut tidak memiliki “guest-first mentality”. kadang kita dihadapkan pada dua pilihan yg sulit, antara memilih rugi sedikit (dgn menangani keluhan ibu prita secara benar) atau rugi banyak (dengan memenjarakannya. cara yg pertama tentunya lebih menguntungkan RS tersebut dalam jangka panjang. saya menduga manajemen RS tersebut sudah gila. saya berharap menduga bukanlah sesuatu yg melanggar hukum
Salam Bloger,
Sebenarnya kesewenangan oknum aparat negara di negeri ini sudah keterlaluan. Banyak hal di sektor2 lain selalu merugikan pihak yang lemah yang seharusnya dilindungi. Seperti anak2 perempuan (saya bilang anak karena umurnya masih di bawah 21 tahun) yang dijebak bandar narkoba menjadi kurir. Mereka bahkan tidak tahu barang yang ditipkan kepadanya. Akhirnya tertangkap di bandara, ternyata 3 kg heroin. Proses pengadilan hanya terjadi beberapa kali dan divonis hukuman mati. Dimanakah nurani oknum hakim yang mengadilinya? Maha Besar Allah, anak itu sekarang sudah mati karena sakit di penjara wanita Tangerang.
Sekali lagi, marilah kita mulai sadar sebelum bangsa ini hancur sama sekali karena tindakan anda2 oknum2 yang saya maksudkan menyebabkan penyakit lebih parah di masyarakat ini. Artinya hukum bisa dibeli oleh mereka yang kuat. Semoga!
Hormat Saya,
Dody Baswardojo
(mungkin) mestinya bu prita mengingat pesan / motto di beberapa rumah makan padang, isinya : beri tahu kawan dan sanak saudara bila anda puas; tapi beritahu kami bila anda tak puas dan masakan kurang enak.
turut prihatin, respon rumah sakir atas email prity, sebenarnya sudah menunjukkan bahwa rumah sakit yang bersangkutan itu salah, kalau gak, ngapain sewot. yang lebih ironis lagi adalah aparat penegak hukum kita, kok mau menangani kasus semacam ini, padahal banyak kasus lain dan tentunya lebih penting masih terbengkalai…. mohon izin untuk menyebar tulisan ini???? terima kasih… Musthofa Bisri
ikut prihatin dengan nasib ibu prita.
lagi-lagi pencemaran nama baik, emangnya nama itu adalah lingkungan yang tercemar. oke, konsumen mengeluh itu wajar, dan mestinya pihak yang dikeluhkan harus menggunakan hak jawab…
salam blogger..
memang media saat ini bisa membuat yang tidak salah menjadi bersalah..
turut prihatin,atas kejadian tersebut sudah jatuh tertimpa tangga pula…..mudah-mudahan ini menjadi pelajaran kita dlm menggunakan informasi elektronik
ini kesewenang-wenangan? (saya serius, tapi harus pakai tanda tanya). seharusnya pengelola rumah sakit berbesar hati, bersedia menerima kritik maupun keluhan. rumah sakit menjual jasa (selain obat, jarum suntik, botol infus…), jadi wajar saja kalau pengguna jasa mengeluh jika merasa kurang dilayani dengan baik.
aparat hukum seharusnya bijaksana. maksudnya, akan lebih terdengar bijak jika aparat hukum yang mendapat laporan kasus di atas menyediakan ruang mediasi antardua belah pihak, mencarikan jalan keluar terbaik, daripada harus memenjarakan si pasien. dengan ini aparat hukum juga bisa menangkis anggapan “hukum pisau” (tajamnya ke bawah, ke atas tumpul) tidak ada di negeri ini. memangnya kritik si pasien sudah kelewat batas, ya?
semoga ibu prita & keluarga mendapat keadilan dari tempat yang tidak bisa dilihat tapi kita yakini ada
Mestinya diperiksa dulu dong benarkah terjadi malpraktek. Kalo benar ya namanya sudah kelewat cemar untuk dicemarkan, kalu tak ada malpraktek baru deh ribut sana di pengadilan.
Budayakan Jam Karet Jangan Pasal Karet!
RS. Omni adalah RS. yg menerapkan standar Neo Liberal, siapa yg kuat maka dia yg menang, mudah2an pengadilan yg akan mengadilinya tdk menerapkan sistem itu
[...] Masuk Bui Karena Menulis Email(blog.tempointeraktif.com) [...]
RS OMNI ko tega skali memenjarakan dan menuntut pasiennya sampai milyaran rupiah ya? Apa mereka ga pernah melakukan kesalahan terhadap pasien2 nya?
TRAGIS…… Harus kita cermati kasus ini ada apa dibalik semua ini???????
Keblinger…bunder…muterr..muter…, Negoro opo iki…, Saya sangat prihatin dengan ibu Prita.., saya doakan bu semuanya akan di berikan seadil-adilnya…, kalaupun ternyata nanti pihak RS tidak bisa membuktikan secara adil…pihak RS harus mengembalikan nama baik ibu Prita dan berbalik membayar denda buat ibu…Insya Alloh.., Pemerintah???..Polisi??..atau pihak yang mengayomi rakyatnya mana ya….Haloo…halooo.., wong setiap manusia diberi kemampuan berbuat secara bebas di dunia ini…apalagi menceritakan pengalaman la..kok malah dizolimi…Bu Prita…saran saya…yang sabar..berdoa aja bu..Insya Alloh langsung terkabul…, biar tutup aja RS model begitu..
saat konsumen tidak menjadi raja oleh rs omni, Kritikan mantan raja/konsumen/bu prita yang tidak dikelola dengan baik oleh raja baru/penjual jasa/omni malah bisa mencoreng produk atau jasa itu sendiri.sokooor
ikut prihatin kepada ibu prita…
menurut saya sih sah2 aja kalo kita komplen terhadap pelayanan suatu pemberi jasa apalagi RS yang pelayanannya langsung dirasakan ke kesehatan kita… kalo merasa dirugikan akibat kompleman ibu prita.. ya artinya pelayanan masih belum memadai. Tingkatkan dong… memangnya dengan masukin bu Prita ke penjara, nama baik RS “–” menjadi lebih baik. Saya rasa sih sama aja dengan semakin menenggelamkan badan yang sudah kotor ke dalam kolam lumpur. RS nya lebel internasional, dokternya “katanya” canggih2 dan berpendidikan tinggi, tapi kok salah cara dalam memulihkan nama baik…
Aq bkn cm prihatin dgn ibu Prita tapi lebih prihatin lagi dengan aturan dan kebebasan berpendapat n mengeluarkan pendapat di negeri kita tercinta ini.
Kalo ini dibiarkan maka akan semakin banyak konsumen yg dirugikan (sengaja) oleh produsen/ penyedia jasa.
Ini HARUS DICERMATI !!!
Turut prihatin atas kejadian yang menimpa Ibu Prita.
Apakat kebebasan berpendapat di negeri ini sudah di kekang kembali?
wih… ini sesuatu yang sangat membahayakan bagi kebebasan berpendapat. Halo.halo pakar2 hukum, para mahasiswa ini serius..serius bukan hanya keluarga ibu Prita, smg diberi kesabaran, tapi bagi kita yg tinggal di Indonesia tercinta ini.
saya masih smp. saya aja tau kalau berpendapat spt it ya bebas. di koran juga sering mengkritik. saya sendiri juga sering mengkritik beberapa tempat di blog saya, contohnya kampung cina. kalau rumah sakit itu tidak mau dikritik, saya heran. diberi kritik dan saran kenapa marah? aneh kan?
klo saya tidak salah dalam manajemen mutu terdapat istilah “bagaimana cara meletakkan kaki anda ke sepatu konsumen”, tapi nyata nya RS Omni International -yang katanya bertaraf intrntl- sepertinya mempunyai motto laen, yaitu “bagaimana cara menginjak konsumen dengan sepatu anda”.
Turut prihatin atas kejadian yang menimpa Ibu Prita n keluarga.
wahhhhhhhhhh aku jadi takut kalu bikin email di indonesia bisa2 masuk penjara,kapan bangsa indonesia akan maju nya kalu kebebasanya aja di kebiri sama orang berduit lihat dikorea ini, mari contoh kebebasan untuk berpendapart
Emang bebas-bebasan ngomong kadang ada yang kebablasan. Jadi emang segala sesuatu harus ada remnya nanti kalo nggak bisa blong dan bikin kacau…. TAPI KALAU YANG DIUNGKAPKAN DITULIS DAN DIOMONGKAN ITU FAKTA DAN KENYATAAN YANG BENER-BENER TERJADI DAN UDAH DIUSAHAKAN UNTUK DIBICARAKAN DENGAN BAIK-BAIK TP NGGAK DITANGGAPIN, ANEH KAN KALO YANG MERASA JADI KORBAN MALAH DIMASUKKAN BUI ANEH KAN. wong MEMANG DI NEGARA KITA BANYAK ORANG ANEH ….
dimana-mana tu setiap organisasi baik itu profit oriented maupun tidak, harus menerima kritik dari konsumennya demi menuju ke arah yang lebih baik. ko ini malah memenjarakan konsumennya.. kalo gitu si sama aj balik lagi ke sistem otoriter.
sama aja kan kalo misalkan ada konsumen yang keracunan suatu produk tapi malah digugat balik sama produsen. buat apa ya ada UU perlindungan konsumen kalu gitu..? tampaknya negara demokrasi masih hanya berupa angan2.. - maju trus mba Prita..!
Yang parah dokternya itu lho, bener2 gak punya hati, bertolak belakang sekali dengan kode etiknya sebagai dokter. Artinya dia kerja bukan untuk kemanusiaan tapi untuk uang, uang dan uang.
Yang dialami ibu Prita di rs omni bukanlah hal yang aneh, maka kita harus waspada dan cari info dengan baik masalah kesehatan kita sekeluarga
karena saya punya pengalaman hampir serupa dimana ayah saya 5tahun lalu yang hanya kena bisul akhirnya meninggal setelah operasi di rs sekitar pluit jakarta
walau operasinya berjalan baik tapi ternyata operasi yang tidak semestinya dilakukan yang dijalani ayah saya
hal ini saya ketahui 1 tahun kemudian saat saya juga mengalami bisul yang sama
sekarang penyesalan dan rasa kecewa menghantui sepanjang hidup saya karena memilih rumah sakit yang salah
hikmahnya (atau trauma) adalah saya sekarang sangat hati-hati memilih dokter dan rumah sakit….
tutup saja, gitu aja kok repot
Di Indonesia Raya ini memang ironis yang namanya konsumen biasanya dalam berperkara atau dalam keseharian selalu dalam posisi “KALAH”. Berita mal praktek banyak kita dengar tapi penyelesaiannya tak pernah kita dengar. Pasien adalah LAHAN EMPUK untuk diperas bagi dokter swasta. Pembodohan oleh dokter dan RS swasta sudah berlangsung lama untuk itu mulai sekarang harus dilawan!
[...] Quote komentar pembaca blog.tempo [...]
makna demokrasinya dimana negara kita ini? saya sarankan bu prita melaporkan kepada president saja bu…
presidet saja kalau di kritik malah justru memperbaiki atas kekuranganya
knp rumah sakit omi malah memenjarakannya???
apakah hukum itu hanya milik lembaga yang ber-uang dan orang yang berduit saja???
katanya negara demokrasi? tetapi dikritik sedikit sudah memenjarakan yang memeberi kritikkan???
Negeri ini benar2 sudah amburadul. Tergantung kemauan, kepentingan mereka2 yang bisa bermain kayu. Ibarat pembalagkan hutan2; apa yang ketemu dibal;ak, disikat membabi buta. Benar2 negeri ini seperti sudah tidak punya wibawa dan tatanan.
Semua aparat hampir sekolah tinggi dengan gelar2 yang berbaris/ menyandang titel2, berpakaian intelek, tetapi moralnya busuk, berTuhan uang.
Kalau ditanyai ber agama? jawabnya ……[lantang]
“pantes aja RS OMNI tangerang nuntut,…”coz,”manegerna plus directurna blo’on smua,..gaptek ..kagak ngertiey internetan,..tahunya duit n duit,..so”..ujung-ujung_na RS OMNI..nuntut duit ma Prita tho’..dasar KAPITALIS+ZIONIS.
namanya juga RS. OMNI Int.
Rumah sakit yg ga punya hati nurani pribumi. uda jangan pada kesana . biar bangkrut
RS Omni Int tidak melayani Prita Mulyasari sebagai konsumen kesehatan sih. Simpati saya buat Ibu Prita dan jangan ada lagi “Prita” berikut.
Tuk ba prita yg tbah ya…semua pasti da akhir ya…tuk pihak k polisian tlong usut tuntas kasus ni.ingat usut dgn keadilan.cia yo(semangat)
Sy pgen jgn ampe ada lg kasus sperti yg d alami lg oleh ba prita..sy dri jg jd takut nulis sembarangan
ya.. tutp aja rumah sakitnya.
jengkel juga dengar penjelasan yang bertele2 dari pihak manajemen omni.
semakin hari mereka semakin bisa membela diri dengan istilah2 kedokteran, kode etik, dan tetek bengek yang tidak bisa kita pahami.
Jaksanya juga bodoh, padahal udah sekolah mahal dan makan enak tiap hari,kalo gara2 kritik jadi dipenjara, harusnya ada jutaan orang yang dpenjara, termasuk komentar saya ini harusnya juga bikin saya dipenjara.. haha.. padahal kalo pejabat2 di rs omni suka baca blog, banyak yang lebih parah dari kritikan ibu prita, makanya main internet woi, jangan hanya bikin obat dan resep palsu aja.. Yang paling lucu di koran2 juga hampir tiap hari banyak kolom kritik dan saran, dan mereka ga dipenjara.. dasar aneh.. rubah aja jadi rumah sakit jiwa…. pasiaen pertama adlah dokter2nya…
sekali lagi jaksanya pasti terima suap, rumah sakitnya cari pasien dengan cara menipu… hebatttt… kayak film mafia aja… mungkin kita memang perlu batman, yang tidak perlu diskusi panjang lebar, tapi langsung menghajar penjahat2 di pengadilan….
1. MENURUT SAYA SIH BUKAN SAJA RUMAH SAKITNYA YG NGACO, DAN INI AKAN BIKIN RUMAH SAKIT OMNI TSB KEDODORAN NANTINYA,KARENA YG KAGA TAU JADI SANGAT BEKEN KEJELEKAN SERTA KE SOMBONGANNYA YG KAGA MAU DIKRITIK.
KALU SAYA SIH JADI TAKUT KERUMAH SAKIT TERSEBUT, JADI ISTILAH BETAWINYA,BUKAN RUMAH UNTUK ORANG SAKIT, TAPI MEMANG UDAH JADI KUMPULAN ORANG SAKIT, MANAGEMENTNYA, DOKTERNYA DAN LAGUNYA YG SOK JAGO, MAU PENJARAIN ORANG. IIIIH NYEREMIN
2. JUGA BUAT OMNI-OMNI LAIN DI INDONESIA, SEMUA AKAN MENDAPAT IMBAS KETAKUTAN MASYARAKAT DENGAN LOGO RS YG BERPENYAKITAN ATAU MEMBUAT ORANG SAKIT INI.
3. MEREKA NGOTOT LAGI DI TELEVISI, SOK JAGO DAN PINTER SENDIRI. SEDANGKAN MEREKA SEHARUSNYA MENJADI RUMAH BUAT ORANG YG SAKIT JADI TENANG, KEMUDIAN BISA DIBERI KEPERCAYAAN , SEHINGGA ORANG PASRAH UTK BEROBAT DISITU.
TAPI SEKARANG, KALU SAYA NGEGOSIP KE YG KITA KENAL, MEREKA MALAH MENILAI MENAKUTKAN!!!!!!!!!!.
4. SAYA RASA MAH TUHAN MAHA PENGASIH, ORANG SABAR DI KASIHI TUIHAN. MEREKA GA SABAR, SEPERTI MEREKA INVESTORNYA OKB-(ORANG KAYA BARU) YG SOK JAGO, NGA MAU NGALAH. BIASANYA, ORANG DUITNYA SUSAH NGUMPULIN DAPETIN MODAL, GA BAKAL SOK JAGO KAYA GITU, YG BARU KAYA ATAU DUIT DARI LANGIT YG BELAGU SOK JAGOAN.
(DARI MASYARAKAT YG GA LUPUT DARI SAKIT, YG BUTUH RUMAH SAKIT YG BUKAN BERPENYAKITAN, AMIN)
5.SAYA JADI BINGUNG SAMA POLISIDAN JAKSA SERTA PENGADILAN DI NEGERI KITA INI, KAYA NYA BENERAN , INI NEGARA MIMPI SEPERTI DI TEVE. YG JELAS-JELAS KORUP DI BELAIN, AZAS PRADUGA TAK BERSALAH. TAPI YG GINIAN BELON-BELON UDAH DI BUI. AJAS PRA KOMISI.
NASIB….. ANSIB….. KAPAN KORUPSI BISA DIKURANGI DI NEGERI MIMPI TERCINTA INI.
MUNGKIN KITA MASIH HARUS MENJADI RAKYAT NEGERI MIMPI….
TUHAN TOLONG LAH BANGSA KAMI INI, APA KAMI MASIH HARUS LAMA DALAM MIMPI BURUK SEPERTI INI….. AMIN
SAYA SENENG LIHAT GAYA IBU PRITA YG SABAR, SOPAN DAN GA KAYA MAU NGETOP JADI SELEBRITIS, (MODEL YG LAGI BELINGSETAN) DENGAN GAYA IBU, MENARIK SIMPATI BANYAKO RANG DEWASA, YG GA IKUT IKUTAN NGEGOSIP SUPAYA AJI MUMPUNG KESEMPETAN BUAT NGETOP.
BISA KELIATAN BELANGNYA.
SALUT
ALLAH AKAN MEMBERIKAN HIKMAH NYA BUAT ORANG YG BIJAK.
Pencemaran nama baik apa yang dicemarkan? Setahu saya RS OMNI baru punya nama, belum punya nama baik. Kan rumah sakit tersebut baru beroperasinya, kok bisa dikatakan punya nama baik. Jadi salah kalau dikatakan mencemarkan nama baik.
saya slalu bertanya2 knp ibu yg dihakimi knp bukan orang yg mengirim pesan ini ke banyak orang ?
ini bukan masalah pencemaran nama baik karna jelas bahwa undang2 yg menyangkut hal ini tdk jelas
allah menciptakan manusia tdk luput dari dosa
sabar buk…smua yg menzalimi anda akan mendapatkan karma nya di dunia atau di ahkirat kelak…..amin!!!!!
Prihatin atas kasus yang dialami Ibu Prita, menurut saya bukan hanya Bu Prita yang mengalami kerugian akibat pelayanan yang tidak memuaskan, masih banyak hal lain yang tidak terungkap.
serem bgt. pake email apaan.. masa bisa ketahuan gitu seh? privacy kita dmn? ini kasus parah bgt seh…
Hahaha…
Biar aja tu si omni,scara tidak sadar “dia” udah ngelempar bumarang buat dirinya sendiri…
“Dia” gak inget apa klo do’o orang2 yg teraniaya ampuhnya bukan main..!!!
Di samping Gus Dur ada Goenawan Mohamad. Ia menerima hadiah uang senilai 250 ribu dolar AS (sekitar Rp 2,3 milyar) dan penghargaan “Dan David Prize” dari Israel. Penghargaan ini diberi-kan kepada para individual dan institusi yang telah memberikan kontribusi unik dan besar dalam sektor kemanusiaan, termasuk di antaranya kontribusi di bidang ilmu pengetahuan alam, seni, dan bisnis dalam tiga dimensi waktu-lampau, kini, dan akan datang. Goenawan telah beberapa kali menerima penghargaan dari berbagai negara Barat.
Memang popularitas GM dalam dunia pers tidaklah diragukan. Dia telah berjasa melahirkan mengkader banyak jurnalis di Indonesia. Tapi, terlepas dari soal itu, Goenawan juga sukses menggerakkan proses sekularisasi di Indonesia. Dia berperan besar ‘membesarkan’ Abdurrah-man Wahid dan Nurcohlis Madjid, sebagai lokomotif liberalisasi Islam di Indonesia. Melalui Tempo, dia pula yang mengorbitkan kalangan liberal seperti Ulil Abshar Abdala.
hati-hati dgn tempo
Mana mungkin rakyat jelata menang melawan perusahaan sekalipun benar. Perusahaan bisa membayar Preman & Tukang Pukul, Pengacara, Polisi dan Hakim-Jaksa. Dengan kata lain bisa menyesatkan kebenaran.
Bukan hanya soal Ibu Prita dibawah SBY dan JK ribuan perkara telah “dimenangkan” atau “dibekukan” oleh Kejaksaan Agung untuk kepentngan konglomerat dan pejabat. Suara dapat dari rakyat kecil, Perlindungan diberikan kepada Konglomerat.
kalo pencemaran nama baik itu bisa seperti kasus RS OMNI , maka band yg harus masuk penjara duluan adalah ini:
vids.myspace.com/index.cfm?fuseaction=vids.channel&channelID=463690785
plis donk laporin dia ke polisi, familiku nyalon bupati juga & dijelek2in kayak gitu, aku gak trima. seems like idiot band ( SLI) anda terlalu berani bermain api
Great work …. Thanks for your ideas.,
Hey! I just searched for and I found your site!,
Thanks I’ll give that a go!,
Adipex….
Adipex generic form phentermine lowest prices. 180 ct adipex….
kasus seperti ini terjadi karena adanya undang undang ITE yang ngawur, tanpa ada UU tersebut tidak mungkin kasus ini terjadi. pengadilan dan polisi hanya melaksanakan uu. adanya kasus ini menjadi bukti bahwa pemerintah dan dpr telah membuat undang undang yang ngawur tanpa pertimbangan dan pemikiran yang matang.
gitu ya mat..
harus pinter2 nulis email mat..harus banyak belajar.tapi untuk perubahan menjadi lebih baik jangan takut ya cak mat..he2
katanya guruku tempo doloe gini:
YEN SALAH YO KUDU SELEH,PANCEN ABOT DADI WONG SOLEH ,KUDU ISO RUMONGSO YEN SALAH.
SEMOGA BERMANFAAT UNTUK SEMUANYA.
lho artinya apa?..yang nggak bisa bahasa jawa terus piye??gimana?
“orang kalo merasa bersalah harus mau mengalah(tidak boleh menjadi-jadi/mentang-mentang),memang susah kalo jadi orang yang sholeh..harus bisa merasa,berbesar hati mengaku kalo punya salah..”