Enak di Blog dan Perlu

Diskusi bisa dilakukan di mana saja. Bahkan di ranah daring pun bukan masalah. Selasa lalu, misalnya, saya melakukannya di ruang digital, Twitter, bersama Snezana Swasti Brodjonegoro alias Nena.

Topik yang menjadi pembicaraan saya dengan teman saya yang bekerja di perusahaan konsultan kehumasan Maverick itu adalah peran jurnalis dan posisi pers di era web 2.0 seperti sekarang. Nena lalu merangkum hasil obrolan itu dalam sebuah tulisan. Dan saya membagikannya di sini dengan harapan Anda memperoleh hikmahnya.

Diskusi berawal dari pertanyaan bagaimana seharusnya industri pers Indonesia memenuhi kebutuhan masyarakat, yang kian aktif dan kritis seiring dengan maraknya media sosial, seperti Twitter, Plurk, Facebook, dan YouTube.

Pertanyaan itu berangkat dari kenyataan yang menunjukkan masih adanya koran yang belum menggunakan situs daringnya secara optimal dan efektif. Padahal pers seharusnya menjadikan situsnya sebagai media untuk berita-berita yang cepat berganti, dan bukan hanya sebagai “tempat membuang” berita versi cetak.

Koran cetak harus mampu menyajikan berita-berita yang lebih mendalam, seperti majalah, sedangkan koran versi daring mesti mampu menjadi tempat terbentuknya komunitas, dan bukan sekadar ruang penayangan berita.

Peranan jurnalis di masyarakat Indonesia, yang mulai merambah ranah daring, juga sangat penting dan bahkan bisa jadi lebih penting ketimbang medianya sendiri.

Jurnalis harus siap melakukan aktivitas jurnalisme melalui berbagai saluran. Tidak melulu di edisi cetak dan situs daring, tapi juga lewat Twitter atau YouTube untuk mengunggah video atau foto lewat telepon genggam, yang saat ini sudah semakin mendukung konektivitas.

Informasi yang beredar lebih cepat harus dapat ditangkap dan disebarkan kepada khalayak luas melalui berbagai bentuk media sosial sehingga kualitas jurnalis dan media juga meningkat.

Peranan jurnalis sebagai distributor informasi menjadi sentral. Di ranah Twitter, misalnya, khalayak bisa mengikuti “kicauan” jurnalis dan bukan organisasi tempatnya bekerja karena sifatnya yang lebih personal, serta mengutamakan reputasi dan otoritas. Karena itu, jurnalis sebaiknya tidak lagi menjadi “prosesor informasi”, melainkan “contextualizer”–memberi konteks terhadap setiap informasi yang disebarkan.

Saya yakin wajah media dan peran jurnalis akan berubah drastis sebentar lagi. Gejala ini terlihat, misalnya, dari makin banyaknya jurnalis yang aktif di media sosial. Naiknya jumlah pengakses media sosial, banyaknya komentar di artikel-artikel berita daring, serta makin seringnya jurnalis tradisional mendapat ide berita dari media sosial menunjukkan bahwa ada kecenderungan ke arah pembentukan komunitas melalui situs berita daring dan peranan aktif jurnalis lewat berbagai bentuk media sosial.

Media daring pun mungkin akan terus meningkat perannya, karena kemampuannya menerbitkan berita dan informasi secara lekas dan dapat diakses dari berbagai tempat.

Isu mengenai pengenaan biaya untuk berlangganan koran daring pun terus menjadi wacana. Apakah model berlangganan tersebut perlu diterapkan atau dilupakan saja.

“Lantas apa kesimpulan diskusi sampean itu, Mas?” tanya Mat Bloger.

“Kami belum mengambil kesimpulan apa pun, Mat. Namanya juga diskusi 2.0, tak perlu ada kesimpulan. Dari diskusi itu, kami malah makin penasaran, bagaimanakah wajah pers dan jurnalis di masa depan. Apakah new media akan menggusur media tradisional?”

Komentar [11]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

11 Komentar untuk “Jurnalis dan Pers 2.0”

  1. Jarar Siahaan | 22 August, 2009 13:22

    aku tertarik dan setuju dengan kutipan bang wicak, “jurnalis sebaiknya tidak lagi menjadi ‘prosesor informasi’, melainkan ‘contextualizer’ — memberi konteks terhadap setiap informasi….”

    beberapa wartawan asing yang aktif ngeblog berkata, jurnalis web 2.0 perlu menulis dengan sudut pandang personal, juga dengan gaya personal. risikonya memang ada: artikel yang ditulis tidak lagi murni berita, karena telah diracik dengan opini dan interpretasi [penafsiran] si wartawan. di indonesia kita tahu jenis karya jurnalistik begini sudah sejak lama diterapkan majalah tempo.

    sejak pertama ngeblog aku, dengan sadar dan sengaja, melanggar satu kode etik wartawan, yaitu memasukkan opini dalam berita yang kuliput, walau terkadang kubiarkan tanpa opini.

    kurasa inilah ciri dan kemenarikan “berita pers 2.0″: dia berwarna, tergantung sudut pandang si penulis, tidak semata-mata fakta.

    yang kukhawatirkan, nanti “wartawan tua” atau yang merasa dirinya “paling pers pancasila” akan protes. seandainya aku didebat soal ini, jawabanku adalah:

    “lebih baik jurnalis terang-terangan menulis penafsiran dan opininya dalam sebuah artikel berita. bukankah selama ini banyak wartawan yang sebenarnya subjektif?”

    memang umumnya konsumen media tidak bisa melihatnya secara jelas di kertas koran atau layar televisi. subjektivitas jurnalis adalah dengan memilih, menonjolkan, membuang, dan memoles bagian-bagian informasi yang diasukai atau tidak diasukai. pun tidak jarang yang justru menggiring mulut narasumber, bahkan menciptakan berita supaya ada.

    bagiku, menyelipkan opini adalah lebih baik ketimbang mengada-ada.

  2. lukman | 23 August, 2009 23:00

    jurnalisme 2.0, saya suka istilah itu, hehe

  3. Taufik Al Mubarak | 24 August, 2009 00:18

    Ada2 ini bung wicaksono…tapi boleh juga tuh…klo bisa penjelasan soal jurnalis 2.0 lebih diperdalam lagi, biar jadi sebuah konsep yang lebih ilmiah

  4. Muhidin | 25 August, 2009 10:33

    Berita senirupa di Koran Tempo hari ini (25/8), “Dominasi Soekarno di Kanvas”, blasss nggak ada waktu kapan peristiwa (pameran) itu dilaksanakan. Rusydi keasyikan memperindah tulisan, tapi lupa elemen paling dasar jurnalistiknya. Gimana cara mengkroniknya untuk almanak kalau nggak ada alamat waktu kapan peristiwa itu berlangsung.

  5. Nena | 27 August, 2009 16:55

    menarik juga untuk tahu seberapa banyak jurnalis 2.0 yang ada di Indonesia ya, dan seberapa 2.0 kah jurnalis di Indonesia…

    btw, boleh tulisannya aku kutip juga di blog-ku mas wicak?

  6. Jurnalis dan Pers 2.0 – a rather flattering post « minha viagem | 28 August, 2009 13:43

    [...] selengkapnya di sini. Tulisan ini dipublikasikan pertama kali oleh Wicaksono, di Blog [...]

  7. bhuto | 26 September, 2009 08:12

    betul mas jangan ambil kesimpulan dulu biar para jurnalis/esm yg nanggap.

  8. Software UM | 7 October, 2009 14:51

    jurnalis 2.0, hehehee…

  9. raden | 8 October, 2009 08:12

    nice name…

  10. Auto Scratches | 30 March, 2012 11:11

    Lets Go Isles!!!!!

  11. rimadyl | 30 March, 2012 16:27

    The People Have Spoken. They have had enough. The vote is the most powerful tool we possess, especially since most of those in Washington, are no longer listening to our voices, even in large numbers. A unified people, coming together for the right causes, will prevail, just as truth and not a lie will always prevail.

Silakan berkomentar, kawan!