Enak di Blog dan Perlu

Sebuah kejutan datang di siang hari yang mendung. Seorang anggota tim pendukung Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla tiba-tiba menelepon saya dan mengabarkan bahwa sang Wakil Presiden hendak mengundang para blogger untuk hadir dalam acara bincang-bincang.

Sang penelepon juga menawarkan jatah satu kursi kosong untuk blogger yang berminat mengikuti perjalanan kampanye Kalla ke Makassar dan Palembang.

Saya kaget. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, blogger diundang oleh Wakil Presiden, ketua umum partai, untuk bertatap muka dan memantau tamasya politiknya ke daerah.

Bagi para blogger, kesempatan itu juga merupakan perkembangan baru. Ini semacam sinyal bahwa para blogger sudah dianggap sebagai kalangan yang patut digandeng oleh para politikus.

Kejutan ternyata berulang. Beberapa hari kemudian, giliran calon presiden lainnya mengontak saya melalui seorang penghubung. Dia juga menginginkan forum yang sama, diskusi antara sang calon dan blogger. Kalau tak ada aral melintang, pertemuan akan berlangsung Selasa pekan depan di Jakarta.

Olala. Benar-benar kejutan yang menyenangkan. Blogger mendadak laris manis tanjung kimpul. Kalangan penulis jurnal personal daring ini tiba-tiba menjadi seperti kembang desa, menjadi rebutan para politikus.

“Kenapa baru sekarang ya, Mas?” tanya Mat Bloger. “Mengapa para politikus itu tidak dari dulu memanfaatkan blogger dan jaringan media daring baru seperti blog untuk mendukung kampanye mereka?”

“Obama, Mat,” jawab saya singkat. “Saya menduga kesuksesan Barack Obama meraih kursi sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat dengan dukungan suporter di ranah daring membuat para politikus Tanah Air ingin mengikuti jejaknya. Mereka menganggap Internet dan seluruh penduduknya, seperti blog dan Facebook, merupakan tiket menuju kesuksesan.

Para calon presiden dan calon legislator merasa perlu berbicara dengan blogger. Mereka bahkan merasa harus tampil sebanyak mungkin di media-media daring. Seperti yang dilakukan Obama.

Maklum, Pemilu 2009 tinggal beberapa hari lagi. Para calon presiden, calon legislator, dan partai politik–serta tim pendukungnya–tentu berusaha keras dan mencari cara sekreatif mungkin untuk berkampanye. Sayang, menurut saya, cara mereka berkampanye di Internet tidak fokus.”

“Tidak fokus bagaimana, Mas?” tanya Mat Bloger.

“Di Internet ada banyak media daring, ada situs resmi, blog, Facebook, microblogging, dan sebagainya. Tapi mereka tak memilih salah satu dari pelbagai media daring itu sebagai pusat perhatian dari seluruh aktivitas mereka di dunia maya. Ivan, blogger Indonesia yang tinggal di Chicago, menyebutnya sebagai markas besar. Bisa berupa situs pribadi, blog, Facebook, atau Twitter. Markas inilah yang berfungsi untuk menampung, mempromosikan, dan menyebarluaskan aktivitas calon maupun materi kampanye.

Nah, para kandidat di sini belum memiliki markas seperti itu. Tak ada satu pun tempat yang dijadikan basis kampanye daring dan menjadi rujukan publik. Memang banyak di antara mereka yang sudah mempunyai blog pribadi, juga Facebook. Tapi layanan-layanan itu tak dikaitkan satu sama lain. Setiap layanan bagaikan bicara sendiri-sendiri. Di blog, mereka menulis visi dan misi. Di Facebook, mereka jual tampang. Bahkan materi-materi kampanye off-air mereka pun tak mencantumkan alamat blog maupun Facebook resmi mereka. Itu kan, aneh.”

“Lo, markas mereka kan di kantor pusat partai, Mas. Mosok sampean ndak tahu?” kata Mat Bloger.

Komentar [16]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

16 Komentar untuk “Jangan Asal Meniru Obama”

  1. b.revier | 28 March, 2009 08:02

    blogger sudah bisa bikin partai nih, dah diajak koalisi tuh, tapi yang ngajak presiden blogger kok blognya suka salah ejaan yah?

  2. winawita | 28 March, 2009 15:10

    Namanya juga masih belajar… salah-salah dikit ngga apa-apa… kegiatan offline aja masih suka amburadul jadi kalo online masih rada-rada aneh maklum aja…

  3. teguh | 28 March, 2009 22:12

    Maklum lg jamannya teknologi it jadi para caleg ataupun capres tdk mau ketinggalan walaupun seadanya

  4. teguh | 28 March, 2009 22:15

    Kapan ya kita punya pemimpin yang benar2 peduli sama rakyatnya

  5. miftah | 30 March, 2009 00:22

    jangan sampai kecanggihan teknologi informasi digunakan untuk kecanggihan kedustaan

  6. Handoko | 30 March, 2009 03:57

    Pertanyaannya bukan mau tetapi mampu tidak Pemimpin Negara RI terutama Preidan dan Wapresnya meniru Obama. Kalau mampu maka dalam waktu 10 thn Indonesia akan berkembang secepat AIRBUS 380. Berhubung Presiden dan Wapres RI masih menggunakan Sepor Texas. Bukan malah maju tetapi sebaliknya RI semakin terpuruk ekonominya, semakin jatuh nilai uang-nya, semakin rusak alamnya semakin bejat moral bangsanya dsb dsb dsb.

  7. Handoko | 30 March, 2009 09:03

    Sdr Teguh Terhormat: Sayang sekali kita berdua tidak akan pernah mengalami. Ayah dan Ibu saya mengatakan kpd saya bahwa mereka tidak akan menjumpai pemimpin-2 yang baik. Tetapi katanya mungkin saya yang akan mengalami. Ternyata juga tidak. Sampai Sdr meninggalkan dunia ini, sebaliknya sdr teguh hanya akan menghadapi Pemimpin-2 yang korupt.

  8. Pozan | 31 March, 2009 11:37

    Waduh… Mulia sekarang blogger harus genjot menulis–yang pasti tulisan yang bermutu–biar dapat undangan khusus. Kalau kampanye maret-april 2009 ini jelas tak mungkin lagi. Bukan tak mungkin kamapnye pilkada akan setiap setahun sekali. Hehehe…

  9. daherka | 31 March, 2009 15:34

    ya segala cara ditempuh untuk ambisi menjadi pemimpin, padahal pemimpin yang baik adalah yg tidak menonjolkan ambisiusnya

  10. michail huda | 4 April, 2009 23:34

    ada banyak hal bisa dilakukan
    tidak sekedar kampanye. tapi pengguna internet masih kecil di indonesia. moga ja cepet diturunin tarif internet, biar banyak orang yang bisa online.betulkan ?kan enak mau kampanye,hehehe

  11. Handoko | 7 April, 2009 04:32

    Mencontoh Obama? Tidak mungkin.
    Jangan kira mencontoh itu mudah. Apalagi mencontoh yang baik. Kalau SBY dan JK akan meniru Obama seperti saja seorang tukang tambal ban ingin bikin pabrik mobil Mercedes.

  12. Handoko | 7 April, 2009 04:39

    Obama mampu merubah dan memperbaiki Dunia. SBY dan JK memperbaiki Lumpur Lapindo pun tidak mampu.

  13. Handoko | 7 April, 2009 04:42

    Untunglah Ibu Obama menyarankan anaknya kembali ke Honolulu Amrika, untuk sekolah dan hidup di sana. Kalau Obama kelamaan di Indonesia maka jadi bobrok dan rusaklah mental dan moralnya.

  14. Handoko | 7 April, 2009 04:52

    Sudah terlambat kalau SBY dan JK ingin meniru Obama, sebab mental manusia-2 seusia SBY dan JK itu sudah karatan berat yang tidak mungkin bisa di perbaiki lagi.

  15. Handoko | 7 April, 2009 04:58

    SBY dan JK sebenarnya tidak perlu belajar dari Obama karena ilmu dan pengalaman kedua tokoh ini jauh lebih tinggi daripada ilmu-2 Obama. Ilmu-2 itu adalah: ilmu Maling, ilmu Manipulasi, ilmu Korupsi, ilmu Menyuap, ilmu Memalsu dsb dsb.

  16. Jual PABX / Call Center >> 0815 8518 1961 | 29 August, 2009 15:29

    Salam kenal…

Silakan berkomentar, kawan!