Enak di Blog dan Perlu

Setiap anak dilahirkan dengan membawa pesan bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia. Penyair India, Rabrindanath Tagore, pernah menuliskan kalimat yang menggetarkan itu dalam sebuah karyanya.

Mungkin Tagore ingin mengingatkan orang tua untuk menjaga anak-anak mereka. Barangkali juga, itulah cara Tagore membayar kepedihan masa kecilnya.

Sebagai anak bungsu, dia tak sempat mengingat wajah ibunya. Dia pun tumbuh sebagai pemurung dan suka menyendiri, termangu di jendela menatap ke taman.

Lahir dari keluarga brahmana Bengali di India, Tagore sempat menikmati bangku sekolah di London. Tapi putus di tengah jalan. Ia harus kembali ke kampung halamannya untuk mengelola pertanian keluarga.

Menikah pada umur 23 tahun, tak membuat Tagore menjadi bahagia, pernikahan itu malah semakin membuatnya tenggelam dalam kemurungan. Dia kehilangan istri dan tiga dari empat anaknya.

Saya tak tahu bagaimana perasaan Tagore jika saat ini masih hidup dan mendengar kabar tentang seorang anak perempuan yang tiba-tiba juga menghilang dari rumah saudaranya di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, Sabtu pekan lalu.

Mungkin Tagore akan mengingatkan kedua orang tua anak berusia 14 tahun itu bahwa setiap anak membawa pesan Tuhan. Anak adalah permata hati yang harus dijaga dan dilindungi.

“Masalahnya, anak itu minggat bersama teman lelakinya, Mas,” kata Mat Bloger. “Lelaki itu dikenal lewat Facebook.”

“Mengapa anak itu pergi tanpa pamit? Dan mengapa orang tuanya bisa tak tahu ke mana anaknya pergi?” saya bertanya.

“Saya enggak tahu, Mas. Tapi dari berita-berita yang saya baca, komunikasi antara anak dan orang tuanya terkesan kurang lancar. Si anak merasa tak nyaman, lalu merencanakan untuk kabur sejak jauh hari,” jawab Mat Bloger.

Mat Bloger bercerita, setelah anak itu pergi, orang tuanya melapor ke polisi. Lalu terjadi kehebohan. Di era ketika media sosial seperti Twitter sedang populer, berita hilangnya anak perempuan berumur 14 tahun itu menyebar ke delapan penjuru angin, lengkap dengan bumbu-bumbu penyedap. Sempat berkembang gosip bahwa anak itu diculik, ditemukan di rumah sakit, diperkosa, dan sebagainya. Padahal ternyata anak itu ditemukan di sebuah tempat di Tangerang bersama lelaki muda. Dan terungkap bahwa mereka berhubungan atas dasar suka sama suka.

Peristiwa ini, anehnya, bergulir bagaikan bola liar. Mentang-mentang perkenalan antara anak perempuan dan pria itu terjadi lewat Facebook, orang menganggap lantas menyimpulkan jejaring sosial ini sebagai penyebab hilangnya anak itu. Bahkan ada yang menilai Internet adalah tempat berlindung yang sempurna sekaligus ladang perburuan bagi para pemangsa anak-anak.

“Ada juga sebagian orang tua yang merasa cemas seandainya anak-anak mereka membuka Internet karena sebab lain, Mas. Mereka takut anak-anak tanpa sengaja melihat gambar-gambar porno yang bertebaran di ranah maya,” kata Mat Bloger.

Saya memaklumi kekhawatiran para orang tua yang berkembang setelah kasus anak hilang di Bumi Serpong Damai itu. Internet memang ranah terbuka dengan aneka ragam isi. Ada bagian yang terang benderang, ada pula yang remang-remang, seperti halnya di dunia nyata. Selalu ada potensi bahaya di sana, juga kemungkinan penyalahgunaan. Tugas para orang tua adalah melindungi anak-anak dari bahaya itu dan memastikan mereka berinternet dengan nyaman dan sehat.

Kecemasan para orang tua memang wajar, tapi jangan sampai menghalangi akses anak ke Internet. Sebab, ruang mayantara ini juga mengandung faedah tak ternilai bagi perkembangan anak. Ia bagaikan perpustakaan raksasa yang menyimpan koleksi segala macam ilmu pengetahuan.

Facebook pun berguna mengajarkan tentang kehidupan sosial. Hanya, para orang tua harus mendampingi anak-anak setiap kali mereka hendak mengakses Internet. Demi mencegah ekses.

Komentar [11]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

11 Komentar untuk “Facebook dan Anak-anak Kita”

  1. sudirman | 15 February, 2010 12:32

    Di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pekan ini heboh lantaran empat siswa sebuah SMA “ditalak tiga” oleh sekolah, karena dianggap menghina seorang guru lewat facebook. Wali Kota, katanya, marah mendengar kabar talak ini. Sang Gubernur mengaku kaget.
    Menurut Mas Wicaksono bagaimana?

  2. mas stein | 15 February, 2010 12:38

    peletak dasar moral anak adalah orang tua. kalo ada yang ndak beres dengan anak sepertinya ada yang ndak beres juga dengan didikan orang tua.

  3. Nyai Kidul | 15 February, 2010 18:22

    Permasalahan anak2 dengan ibu-bapa bukan perkara baru,dan sudah wujud sejak sekian lama,sama tuanya dengan dunia ini.Permasalahannya bukanlah disebabkan internet,Facebook atau Twitter,tetapi ia adalah sebahagian dari masalah sosial,yang pasti dihadapi dimana2 negara,tidak kira samada negara mundur,negara membangun atau negara maju.Dan ia juga menjangkau tanpa memilih agama,budaya atau bangsa

  4. Nazhori Author | 15 February, 2010 21:22

    Usulan Mat Bloger tentang perlunya orang tua mendampingi anak dalam akses internet menarik. Sayangnya Mat Bloger, kadangala orang tua di sekitar kita kurang begitu peduli. Faktornya bisa saja karena orang tua itu gagap teknologi, atau bersikap masa bodoh. Saya pikir tidak sepenuhnya anak disalahkan (bliming victims). Bagaimana orang tua akan mendampingi jika si anak mengakses di luar rumah sementara orang tua sibuk bekerja di kantor, berdagang atau memasak bagi seorang ibu. Otomatis kontrol terhadap anak tidak maksimal. Kira-kira apakah perlu nih Mat Bloger untuk memisahkan facebook bagi anak-anak dan orang dewasa. Sementara cara pandang facebook bagi orang dewasa dan anak-anak berbeda. Salam. Trims.

  5. Wicaksono | 16 February, 2010 14:11

    sudirman dan nazhori: mayoritas anak-anak kita nyaris tak pernah dibekali ilmu tentang Internet. mereka langsung memakai. akibatnya muncul kasus-kasus di sana sini. lalu kita menyalahkan internet dan media sosial. dan anak-anak. padahal pendidikan untuk mereka adalah tanggung jawab kita semua bukan?

  6. Nesri | 17 February, 2010 06:42

    Setuju,anak2 skarang harus dibekali pendidikan mengenai internet.anakku yg umur 3th aja dah bisa pake laptop dan dah ngerti kalau di internet dia bisa nonton dora.pendampingan memang perlu terus menerus

  7. Puracendana | 17 February, 2010 13:53

    Kebimbangan Mat Bloger dan Wicaksono memang ada asasnya,dan permasalahan remaja ini memang bisa membuat kita termenung panjang.Mendepani masalah remaja masa kini memerlukan komitmen yang berterusan dan terancang.Pendekatan ortodoks seperti menghalang anak2 kita dari melayari internet atau tidak membenarkan mereka mengunakan Facebook @ Twitter adalah tidak relevan.Mana mungkin kita sentiasa dapat mengawal mereka sedangkan kemudahan ini saja udah bisa dibawa hingga kebilik tidur melalui ponsel.Kajian Illiet Turiel ,seorang pengkaji perkembangan kognitif remaja menyatakan,golongan remaja memang mudah diresapi oleh pelbagai elemen positif dan negatif bergantung kepada corak persekitaran mereka.Menurut Jean Pigeat pakar sosiologi pula,dimensi kognitif remaja pada peringkat umur 18 tahun sudah mempunyai kapisiti untuk menyelesaikan perkara2 abstrak dan berfikir secara logik.Ini bermakna,golongan remaja tidak hanya menyerap bulat2 apa yang berada disekeliling mereka tetapi menyaring berdasarkan pemikiran yang logik.Olih hal yang demikian,keterbatasan logik yang dibayangi oleh naluri remaja itu perlu dibangunkan secara teratur melalui bimbingan orang2 terdekat mereka seperti ibu-bapa,guru,peer-group dsb

    Sementara itu,menurut Reed Larson,seseorang remaja itu cenderung untuk berubah perwatakan (mood) dalam masa 45 minit sahaja.Justeru,aspek yang harus dibangunkan bagi memelihara perubahan tersebut supaya tidak berubah menjadi sesuatu yang negatif adalah aspek kendiri,iaitu pembinaan jati diri remaja tersebut kearah perkara2 positif.Reed Larson dalam pemerhatiannya menyatakan,remaja yang diwarnai dengan nilai2 kendiri positif akan membesar sebagai seorang yang positif sifatnya,dinamik sikapnya dan rasional pemikirannya.Berbanding dengan remaja yang diabaikan aspek pembinaan kendirinya,mereka cenderung untuk melepaskan gejolak perasan dengan melakukan ´escapisme´ sebagai jalan keluar.´Escapisme´ inilah yang diterjemahkan oleh pengkaji psikologi sebagai unsur menarik perhatian individu lain terutama kelompok yang dekat dengan mereka seperti ahli keluarga atau sahabat.Sikap ´escapisme´ ini harus ditangani secara bijak,ibarat ´menarik rambut didalam tepung´.Dengan cara ini,jiwa remaja yang gemar kepada ´escapisme´ negatif dapat dibimbing ke arah yang lebih positif dan teratur

    Dunia ICT sebenarnya sama saja dengan semua unsur2 lain didunia ini,yang sememangnya dijadikan Tuhan berpasang2,yaitu negatif lawannya positif,buruk lawannya baik,sama saja dengan malam yang lawannya siang dsb.Jadi memang anak2 serta remaja masa kini sentiasa terdedah kepada gejala negatif yang juga ada terdapat didunia siber itu,namun untuk membendung kesan negatifnya secara total adalah mustahil.Justru itu pendekatan mengimbanginya seharusnya dilakukan secara proaktif,yaitu dengan membina daya kendiri anak2 kita itu,dan rasanya pendekatan sebegini tidaklah mustahil akan berhasil.Analoginya seperti ini,sebagai contoh,Teknologi Bluetooh umpamanya,melaluinya bisa disebarkan video2 lucah dengan mudah,dan adakah dapat kita bendung,sedangkan anak2 kita seusia diawal tujuh tahun saja udah minta dibelikan ponsel?Mahu dihentikan penggunaan telefon bimbit yang mempunyai Bluetooth,udah tentu mustahil,karena pastinya akan ada satu side lagi yang berfikiran positif akan menentang.Solusinya,kita mungkin perlu mencipta berbagai2 ayat2 al-Quran,atau wallpaper peringatan,imej2 berbentuk peringatan yang menarik dll.dan hasilkan agar ia bisa transferable melalui Bluetooth.Itulah pendekatan proaktif yang saya maksudkan,karena mendepangi remaja masa kini memerlukan strategi lembut serta berhikmah

    Seorang ahli antropologi,George Peter Murdock menakrifkan bahawa keluarga adalah satu kelompok sosial yang tinggal dibawah satu bumbung,mempunyai kerjasama dalam kegiatan ekonomi dan menambah zuriat.Faktor kepincangan keluarga dan taraf sosio-ekonomi sesebuah keluarga akan mencorak kehidupan seorang kanak2.Kegagalan ibu-bapa sendiri untuk membetulkan kepincangan anak2 mereka akan menyebabkan anak2 ini tidak lagi menghormati mereka.James Becker mengatakan ketidak seimbangan disiplin sesebuah keluarga akan menyebabkan anak2 tidak dapat mewujudkan pengawalan diri yang sempurna,dan ini akan menjejaskan ketahanan diri anak remaja itu.Maka jelaslah bahawa institusi keluarga memainkan peranan yang penting sebagai pembentuk sahsiah anak2 serta remaja kita.Ibu bapa haruslah membimbing,memahami dan menyelami kehendak jiwa remaja serta berfikiran terbuka,dan ini akan mendorong kepada kewujudan suasana harmonis,sekali-gus mampu menangkis gejala sosial negatif,yang mungkin mengancam anak2 serta remaja kita.Wallahualam

  8. putra timur | 20 February, 2010 23:29

    ‘Dia adalah anak mu tetapi dia bukan milikmu……karena dia adalah milik ….Zamannya’ kalau tak salah Khalil Gibran tuh yg bilang.

  9. Bangkit wismo | 21 February, 2010 06:56

    Harus diakui manusia kalah berlari dengan perkembangan internet. Meski, internet adalah buah tangan manusia. Makanya nggak heran ada 3 tipe orang dalam menghadapi produk teknologi itu, ada yg acuh, ada yg paham untuk apa dan bagaimana teknologi itu dipakai, tp ada juga yg g paham apa-apa, namun tetep aj makai.

    Saat, McLuhan meyakini soal global village, n jean boudrilard skeptis soal hiperealitas, y smua sedang terjadi sekarang ni

  10. Abdul Azis Fataruba | 21 February, 2010 09:06

    Saya sangat setuju sekali dengan komentar pak M Fahmi aulia.

  11. Wahyudi | 26 February, 2010 16:39

    Dengan internet memang segalanya mungkin.Terpulang pada individu bagaimana mengunakan dan memanafaatkanya.Para banjingan udah ada yang memeras-ugut menggunakan ranah ini untuk menyebarkan keaiban orang dengan menyiarkan foto2 lucah dsb.

    Kesimpulanya ramai yang terkena kejutan budaya dengan kehadiran dunia siber ini,berbanding keadaan lebih aman semasa zaman ‘pelita ayam’ dahulu.Mahmood Ahmadenijad pernah mengharamkan Facebook diIran karena bimbang dengan ‘ledakan maklumat’ dari A.S menjelang pilihanraya Presiden Iran. Tidak kurang ramai yang beranggapan mengunakan Facebook umpama terusan membantu Israel menekan Palestin.

    Ini karena seperti yang kita ketahui,Facebook diasaskan seorang anak muda Yahudi Amerik Mark Zuckerberg yang tidak sempat menamatkan kuliahnya diHavard karena sesuatu sebab.Beliau juga dikatakan seorang ahli aktif dalam Alpha Epsolon Pi Fraternity (AEPi) yaitu sabuah persatuan Yahudi Amerika Utara yang terusan memberi bantuan kepada Israel dengan cara menubuhkan ‘AIPAC on Campus’,yaitu badan yang mendidik pelajar2 Universitas dan Sekolah2 Tinggi,bagi meneruskan agenda mengukuhkan hubungan Amerika-Israel.Jadi Zuckerberg sebagai alumni adalah mastermindnya.

    Bukankah itu satu kejutan budaya? Di Indonesia saja udah ada unsur2 kejutan budaya ini bila SBY udah berura2 mau mengawalnya. Aduhai anak2 kita

Silakan berkomentar, kawan!