Enak di Blog dan Perlu

Sejak Piala Dunia usai, pos ronda di kompleks rumah saya makin sepi. Tak ada lagi keriuhan orang menunggu pertandingan di depan pesawat televisi pada dinihari sampai menjelang pagi.

Tiada lagi tikar yang biasa digelar untuk lesehan. Kacang rebus, singkong, wedang ronde, yang malam-malam sebelumnya rajin datang, pun sekarang menghilang. Penghuni terakhir pos ronda adalah dua petugas satuan pengamanan kompleks dan beberapa tetangga yang kebetulan mendapat giliran jaga. Mengapa?

Malam itu, ketika angin bulan Juli berdesir-desir membawa dingin, saya iseng-iseng ikut kongko bersama para peronda, meski tak sedang mendapat jatah ronda. Saya cuma mau ngobrol, mendengarkan cerita tentang situasi lingkungan rumah.

Seperti biasa, saya menenteng telepon seluler pintar yang selalu tersambung ke Internet. Sambil bercanda dengan tetangga, berkali-kali saya melihat telepon untuk mengecek e-mail masuk atau sekadar melihat status teman di Facebook, Twitter, atau Foursquare. Gara-gara saya sibuk menatap layar ponsel, seorang tetangga kemudian menegur.

“Dari tadi sampean ngeliatin handphone melulu. Ngapain sih, Mas?”

Saya nyengir seperti anak kecil ketahuan mengambil permen di warung. “Eh, err… anu… ini, Pak. Saya lagi check-in di pos ronda biar dapet badge.”

“Check-in? Badge? Apaan tuh, Mas? Lha wong cuma di pos ronda saja kok pakai check-in sih, Mas? Kayak di hotel saja….”

Jleb! Ulu hati saya tiba-tiba seperti dihajar pukulan jab petinju kelas berat begitu mendengar komentar tetangga saya itu. Rumah saya memang hanya sekitar 20 kilometer dari Jakarta. Tapi rasanya beribu-ribu kilometer jarak pengetahuan digital saya dan tetangga-tetangga saya.

Tentu saja tetangga saya bingung. Saya memakai istilah-istilah yang hanya diketahui oleh mereka yang terbiasa menggunakan Foursquare. Ini adalah aplikasi sosial berbasis lokasi dari Amerika yang sedang naik daun. Check-in adalah istilah yang dipakai untuk melaporkan posisi kita di suatu lokasi tertentu. Sedangkan badge adalah mekanisme apresiasi dari Foursquare kepada pengguna yang, misalnya, beberapa kali berturut-turut check-in di tempat yang sama.

Tapi, jangankan Foursquare, tetangga saya pun banyak yang belum tahu media-media sosial lain, seperti Facebook dan Twitter. Anda boleh tertawa, tapi begitulah kenyataannya.

Pada saat itulah saya tiba-tiba seperti ditarik menginjak bumi. Selama ini saya kira semua orang sudah tahu apa itu blog, Facebook, atau Twitter. Ternyata tetangga saya ada yang belum tahu satu pun.

Jumlah pengguna Internet di Indonesia memang terus melonjak. Hingga bulan ini, menurut catatan Google, baru ada sekitar 31 juta pengguna Internet di negara yang penduduknya 237 juta jiwa itu. Dari jumlah itu, 25 juta lebih memiliki Facebook, 6 juta mempunyai Twitter. Belum diketahui berapa pengguna Foursquare. Tapi, sebagai gambaran, mailing list ID-Foursquare mengaku memiliki lebih dari 400 anggota aktif.

Dari angka itu jelas terlihat masih banyak orang Indonesia yang belum mengenal jejaring maya. Apalagi Foursquare. Masih ada lebih dari 200 juta penduduk yang buta Internet. Artinya kesenjangan digital begitu lebar terbentang. Dan kesenjangan ini bukan hanya terjadi di desa terpencil, tapi bahkan juga ada di daerah yang tak jauh dari Jakarta.

Mereka yang hidup di kota besar, dengan koneksi Internet superkencang, mungkin tak begitu merasakan atau abai terhadap kesenjangan ini. Tapi sesekali cobalah keluar dari zona nyaman tanpa membawa apa-apa. Tanpa handphone atau laptop. Rasakan sendiri bagaimana hidup seperti 200-an juta penduduk Indonesia yang belum kenal Internet itu.

Komentar [12]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

12 Komentar untuk “Dongeng Digital Antara Tangerang-Jakarta”

  1. Billy Koesoemadinata | 19 July, 2010 11:50

    di sekitar tempat tinggal saya juga masih banyak koq yang belum ‘melek’ internet..

    padahal, rumah saya di wilayah cipete deket fatmawati, jaksel

  2. tedy | 20 July, 2010 06:48

    walah…saya aja punya akun tapi males mbuka..karena saya lihat malah bikin orang kota jadi ndeso…dikit-dikit update..

    hehe

  3. ocep | 20 July, 2010 14:48

    semua itu pilihan .., saya memilih untuk tidak bergabung dalam jejaring sosial dunia maya karena memang tidak begitu tertarik setelah friendster.., banyak saya temukan pada lingkup sosial saya yang memilih seperti saya di jakarta.., jadi bukan berarti ketinggalan zaman ataupun ‘ndeso’..

  4. AntAnt | 21 July, 2010 20:41

    kalau internet = facebook & jejaring sosial maya lainnya itu merugikan.. dengan internet kita dilatih untuk mencari/seleksi informasi.. bukan menelan informasi dari media seperti tv, radio, dll..
    selain itu semuanya mudah dicari dengan internet, ibaratnya kita bisa merangkul dunia.. sayang masih ada rakyat kita yang membenci internet padahal gara2 dia tidak mengetahui dan malas mengetahui apa internet itu..

  5. haha | 22 July, 2010 12:59

    hahaha…. lucu dan ironis. mau bersosialisasi dg tetangga kok malah mainan internet… ck ck. Bukannya merasa tidak pada tempatnya eh malah merasa tetangganya gaptek.
    wanna call me Ndeso?.. so be it.

  6. penjernih air | 22 July, 2010 13:55

    internet blm merata, masih banyak yg blm ngerti tentang internet mas..:)

  7. foursquare | 22 July, 2010 19:29

    Saya juga baru tahu apa itu Foursquare

  8. via | 23 July, 2010 15:42

    apa tdk bs pakai bahasa Indonesia sesuai EYD? chekin, badge, fouthsquar.
    kesimpulan : dari TK sampai Sarjana pelajaran pelajaran bahasa indonesia ada tapi akhirnya . . .

  9. vien | 2 August, 2010 12:10

    aq pun sama tinggal di jkt tapi memang belum semuanya sdh melek dng internet

  10. the gar | 4 August, 2010 09:02

    dari pada ngomong yang g paham mending pake istilah yang membumi aja, toh jejaring sosial di lingkungan tetangga lebih baik di banding jejaring sosial di dunia maya.

  11. world wide web | 9 August, 2011 06:42

    As a world wide web resource for businesses and technologies enthusiasts to comply with the latest and biggest breakthroughs in Unified Communications, IP Telephony, Hosted Communications and VoIP.

  12. Presiden Pemain Sinetron | 9 August, 2011 09:11

    Jangan Cuma Nazar, Buron Koruptor Lain harus Ditangkap!
    JAKARTA - Keberhasilan aparat penegak hukum menangkap Muhammad Nazaruddin di Cartagena, Kolombia dinilai belum cukup. Pemerintah termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus bekerja ekstra untuk menangkap buronan perkara korupsi lainnya.
    “Masih ada 44 buronan lagi yang buron di luar negeri, ini yang harus ditangkap, secara moral, ini adalah kewajiban polisi untuk menghadirkan mereka,” kata Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti, kepada okezone, Senin (8/8/2011) malam.
    Menurut Ray, aparat penegak hukum dibantu pemerintah harusnya bisa dengan mudah menangkap buronan kakap lainnya seperti Nunun Nurbaetie yang menjadi tersangka suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004.
    “Polisi bisa mengetahui Nunun, namun kita patut menduga polisi tidak bisa memulangkannya karena pemerintah tidak punya kemauan,”
    Ray berpendapat, penangkapan buron ataupun pengungkapan kasus korupsi selama ini terkesan hanya karena kemauan politik semata. “Jangan ada lagi anggapan bahwa polisi dapat menangkap jika ada perintah dari SBY saja,” harapnya.
    Seperti diketahui, hingga saat ini buronan perkara korupsi yang ditangani KPK, Polri maupun Kejaksaan Agung masih melenggang bebas di luar negeri. Selain Nunun, sebut saja Anggoro Widjojo, buronan KPK yang menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Departemen Kehutanan.
    Ada Bambang Soetrisno, Adrian Kiki Ariawan, terpidana seumur hidup kasus BLBI Rp 1,5 triliun. Maria Pauline Lumowa, tersangka pembobolan Bank BNI Rp 1,7 triliun yang diduga kabur ke Belanda. Kemudian Djoko Tjandra yang kabur ke Singapura sebelum putusan vonis dua tahun penjara oleh MA terkait kasus pencairan klaim Bank Bali dibacakan.
    SBY Juga harus Perintahkan Polri Tangkap Nunun
    JAKARTA - Direktur Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi perintah kepada Polri membantu penangkapan buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Nunun Nurbaetie.
    Ray mengingatkan agar pemerintah termasuk aparat penegak hukum juga memprioritaskan pemburuan sejumlah koruptor termasuk Nunun yang ditetapkan sebagai tersangka kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004.
    “SBY harus segera mengintruksikan untuk menangkap Nunun,” kata Ray Rangkuti kepada okezone, Senin (8/8/2011) malam.
    Menurut Ray, Nunun mestinya mudah ditangkap sama seperti penangkapan buronan KPK Muhammad Nazaruddin di Cartagena, Kolombia pada hari Minggu (7/8/2011) malam.
    “Nazaruddin saja dikejar habis-habisan ke luar negeri, kenapa Nunun dibiarkan? Apakah ini karena SBY tidak menyebut nama lainnya,” kritiknya
    Pemerintah, sambung Ray harus memberi keadilan dalam proses hukum kepada semua koruptor terlebih yang sudah berstatus buronan. Publik, kata Ray menunggu kepastian hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi, baik Nazaruddin, Nunun ataupun lainnya. “Kita bisa melihat ini ada ketidakpastian hukum yang tidak sejajar antara keduanya, Nazar dan Nunun,” pungkasnya.
    KPK mencegah Nunun ke luar negeri pada 24 Maret 2010 sehari sebelum Ditjen Imigrasi mengeluarkan surat cekal terhadap istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun ini.
    Nunun pernah sekali menjalani pemeriksaan di KPK sebagai saksi, awal Oktober 2010 namun setelah itu dia selalu mangkir dengan alasan sakit lupa berat dan tengah menjalani pengobatan di Singapura.
    Status Nunun naik menjadi tersangka pada Februari lalu, namun Ketua KPK Busyro Muqoddas baru mengumumkan status tersangka ini pada rapat kerja bersama Komisi III DPR tanggal 23 Mei 2011.
    Sampai saat ini lokasi keberadaan Nunun belum diketahui. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar pernah menyebut Nunun singgah ke Thailand termasuk ke Pnom Penh, Kamboja akhir Maret lalu.

Silakan berkomentar, kawan!