Nov
7
Kisah perseteruan “cicak” versus “buaya” bergulir bagaikan bola liar di ranah Internet. Guliran kasus makin seru setelah dua petinggi nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto, ditangkap pada Kamis pekan lalu. Hari itu juga, dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Usman Yasin, membuat “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto”. Dalam waktu sepekan, persisnya hari ini, aksi tersebut telah meraih lebih dari sejuta pendukung.
“Bagaimana aksi itu bisa mendapat dukungan secara cepat dan meluas, ya, Mas?” tanya Mat Bloger, kawan saya, yang sekarang gemar beraktivitas di media sosial, seperti Facebook dan Twitter.
“Pertama-tama tentu saja karena Facebook dan Twitter sedang menggila di Indonesia. Pengguna Facebook, misalnya, sekitar 11,8 juta. Pemakai Twitter 1,8 juta. Dua media sosial ini memiliki efek viral. Sebuah pesan dapat tersebar ke mana-mana dalam tempo relatif singkat lewat jejaring sosial itu. Apalagi isu yang diusung memang sedang menjadi perhatian masyarakat dan khalayak di Internet.
Gerakan sosial (online activism) seperti jamur yang tumbuh subur di lahan yang tepat dan pada waktu yang pas. Dipicu oleh sukses Barack Obama, yang memboyong isu perubahan di masa pemilihan Presiden Amerika Serikat, gerakan sosial lewat jejaring sosial, seperti Facebook, pun menggejala di mana-mana, termasuk Indonesia.
Sampean tentu masih ingat fenomena yang sama di masa pemilihan legislatif dan presiden beberapa bulan lalu. Di Facebook juga marak aksi dukung-mendukung atau tolak para calon legislator dan presiden. Lalu ada aksi “Dukung Pembebasan Prita Mulyasari”, ibu rumah tangga yang terkena kasus pencemaran nama baik itu. Jangan lupa pula pada gerakan moral IndonesiaUnite, yang muncul pascapengeboman Hotel Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, pada Juli lalu. Gerakan-gerakan sosial semacam itu kian meluas berkat dukungan Twitter.
Dari fenomena online activism itulah kemudian muncul istilah aktivis daring (online activist) atawa orang-orang yang aktif melakukan kampanye sosial. Aktivis daring mempunyai ciri-ciri, antara lain, terdidik, berstatus sosial-ekonomi menengah ke atas, dan akrab dengan Internet. Sebagian besar di antara mereka masih berusia produktif, 18-35 tahun. Kita bisa melihat mereka berseliweran di kantor-kantor mentereng, nongkrong sambil minum kopi kafe, atau di kampus-kampus dengan laptop ataupun telepon pintar di tangan.
Aksi para aktivis itu tak bisa dianggap remeh. Pekan lalu kita melihat pameran efektivitas mereka sebagai salah satu kelompok penekan yang menolak penahanan Chandra-Bibit. Tekanan mereka begitu besar sehingga akhirnya kedua tersangka itu ditangguhkan penahanannya.”
“Apakah, sebagai narablog, saya juga bisa menggalang gerakan sosial seperti itu, Mas? Apa kunci keberhasilannya?”
“Tentu saja bisa, Mat. Kuncinya, sampean harus pandai-pandai memilih isu yang seksi. Maksud saya, sesuatu yang menjadi perhatian dan menyangkut kepentingan publik, misalnya korupsi, perubahan iklim, dan pendidikan untuk orang miskin.
Kedua, kenalilah lingkungan yang hendak dibidik. Amati komunikasi yang biasa berlangsung di lingkungan tersebut sebelum sampean ikut terjun dan memperkenalkan sebuah gagasan. Ada baiknya bila sampean mengajak tokoh di lingkungan tersebut untuk berkolaborasi mendukung gerakan. Keikutsertaan sang tokoh akan memberi semacam legitimasi dan memperkuat efek viral. Selanjutnya, serahkan sisanya kepada khalayak. Kalau gagasan sampean memang dianggap penting dan bermanfaat, mereka pasti akan dengan sukarela mendukung.”
biasanya kalo menyentuh isu yang mengusik hati nurani dan nasionalisme pasti langsung ada dukungan yang kuat seperti kasus bibit-candra dan isu malaysia kemarin
Memilih isu yang menyangkut kepentingan publik?! Gimana kalau mota-matinya listrik PLN di Jakarta sekarang diangkat untuk buat somasi ke PLN? He…He…
Bukan kah itu sudah menjengkelkan publik?
Cicak versus buaya adalah masalah kecil, Bank Century jika dibuka akan lebih menarik, dan banyak kadal raksasa dan komodo beracun yang bakal kepanasan
Cicaknya terlalu menepuk dada, buayanya narsis, yang terbaik cicak dan buaya introspeksi, jangan berlaku sok jagoan dan paling berjasa di negeri ini
Faceboook benar2 luar biasa..
Setidaknya ia bisa membantu kelahiran pressure group modern.. Yang berbasis dunia maya…
Gara FB banyak keretakan rumah tangga, sesama teman, bahkan kejahatan yang tak dapat dibayangkan
mafia war di FB sebentar lagi diganti cicak vs buaya
Terjadinya dukungan yang besar terhadap Bibit-Chandra karena arogansi dari oknum suatu institusi yang merasa lebih berkuasa dan lebih besar…sehingga ucapan “Cicak kok mau melawan buaya” adalah sebuah pelecehan terhadap insitusi KPK..yang telah banyak berhasil menangkap koruptor selama ini…coba lihat sebelum ada KPK ada enggak para pejabat atau mantan pejabat yang ditangkap dan diadili kemudian dipenjara karena korupsi… jarang kan? Jadi…wajar kalau masyarakat mendukung KPK..dan jalan paling mudah adalah lewat facebook…
semua ini menunjukkan lemahnya hukum RI.pejabat yg tak tahu diri tak malu pada masyarakat miskin.
nah, belakangan terasa kan manfaat FB dibanding mudharatnya. kelompok yg pernah mengecam dan menganggap jejaring sosial ini haram, selekasnya mesti mencabut kata2nya…
di facebook banyak ndorokakung palsu yang asli yang mana ya?
cicak vs buaya…
sbenernya apa ada suatu konspirasi di dlm kasus in ya???
persoalannya, aparat penegak hukum di negara kita sudah tidak punya rasa malu. Merasa punya power untuk mengendalikan hukum itu sendiri. Dan naifnya, mereka selalu beranggapan rakyat Indonesia mudah untuk dikelabui dengan sinetron murahan mereka. Tampil di TV dengan bukti2 yg kadang konyol untuk dilihat. Coba dibikin Poll survey terbaru, seberapa besar tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum di Indonesia?
Sebetulnya banyak kasus yang bisa dibuat untuk mencari dukungan lewat Facebook misalnya, pecat Kapolri-Jagung, angket Bank Century,tahan Anggodo kalau masih kurang ada lagi lengserkan SBY
Semoga tetap totalitas dalam mewujudkan perubahan
Buku baru,
Merekayasa Masa Depan: Sebuah Refleksi Untuk Aksi
Penulis: Syamsudin Kadir
Penerbit: Tinta Sejarah Publishing Bandung, 2010
Email: tintasejarah@gmail.com
Cp. : 085 320 230 299
thanks infonya visit : akhmad06.student.ipb.ac.id