Aug
8
Blogger Bukan Calo
Ini masih tentang kesalahpahaman dan karut-marut di ranah blog. Tentang persepsi orang terhadap narablog (blogger) yang salah kaprah. Cerita dimulai ketika saya mendapat tugas berangkat ke Bangkok, Thailand, untuk mengikuti pelatihan tentang subsidi energi dan kaitannya dengan perubahan iklim.
Pelatihan itu berjalan baik-baik saja tanpa gangguan menjengkelkan. Kecuali ketika pada sebuah jeda makan siang, tiba-tiba telepon genggam saya menjerit nyaring. Saya lihat nomor identitasnya tak keluar. Berarti panggilan internasional. Mungkin dari Jakarta, begitu saya membatin. Karena merasa panggilan itu mungkin penting dan mendesak, saya pun menerimanya.
Setelah berbasa-basi, si penelepon memperkenalkan diri. “Mas, saya Miss Riwil dari maskapai penerbangan internasional Emprit Airlines. Perusahaan saya mau membuat lomba penulisan blog. Boleh minta tolong nggak?”
“Boleh. Sampean butuh apa?”
“Banyak, Mas. Bagaimana kalau besok kita meeting saja untuk membicarakan masalah ini?”
“Di mana?”
“Di Plaza Senayan, Mas.”
“Jakarta? Waduh, maaf. Kalau besok saya nggak bisa. Saya sedang di Bangkok sampai pekan depan.”
“Bisa diwakilkan nggak?”
“Halah, saya ndak punya wakil, tuh.”
“Errr… maksud saya, bisakah Mas mencari pengganti, begitu?”
“Dari kalangan blogger?”
“La iya to, Mas. Teman Mas kan banyak.”
“Tapi mereka belum tentu mau.”
“Kenapa? Katanya blogger senior….”
“Maksudnya sudah tua? Apa hubungannya?”
“Ya, Mas, kan, bisa meminta mereka untuk mewakili….”
Sampai di situ saya mendadak merasa seperti dibenturkan pada tembok batu. Kepala saya dibikin pusing sembilan keliling. Oalah… rupanya narablog itu dianggap orang-orang yang bekerja di sebuah kantor yang sama. Jika ada satu narablog yang berhalangan, blogger lain siap menggantikan tanpa banyak cing-cong.
Terus terang saya tak tahu dari mana datangnya kesalahpahaman itu. Tapi kesemrawutan pengertian ini tentu saja perlu diluruskan. Meski ada yang kebetulan bekerja di perusahaan yang sama, narablog itu bukan sekumpulan orang yang mencari nafkah di kantor yang sama. Mereka juga belum tentu saling kenal, apalagi bersedia dimintai tolong untuk mengerjakan sesuatu yang bukan urusannya.
Jadi, kalau misalnya saya diminta datang untuk berdiskusi tentang etika blog dan kebetulan berhalangan, saya tak bisa seenaknya meminta narablog lain datang untuk mewakili. Mereka belum tentu tahu soal itu dan mau datang. Kalangan narablog tak diikat oleh rantai komando atau hubungan atasan dan bawahan.
Ada contoh lain tentang kesalahpahaman semacam itu. Kejadiannya baru saja saya alami sendiri. Syahdan, saya mendapat kiriman e-mail dari seseorang yang mengaku karyawan bagian teknis sebuah operator telepon seluler terkemuka. Isinya singkat, padat, tapi tak jelas buat saya. Begini petikannya.
“… dengan ini mengundang Mas untuk mengikuti proses bidding pembuatan corporate blog perusahaan kami.”
Proses bidding? Lelang? Tender? Saya kaget. Pengirim e-mail ini pasti mengira bahwa saya, juga para narablog, adalah semacam perusahaan rekanan atau mitra bisnis. Jadi setiap kali ada proyek, kami diundang untuk mengerjakannya.
“Mungkin juga sampean dikira calo, Mas, ha-ha-ha…,” Mat Bloger berkomentar sambil ngakak.
Semprul! Memang di Indonesia ini ada orang-orang yang menjadikan dirinya sebagai narablog profesional. Maksudnya, orang yang berprofesi sebagai blogger. Mereka memang mencari nafkah dengan dan melalui blog. Tapi sebagian besar narablog bukan profesional. Amatir. Sekadar hobi. Mereka memakai blog sebagai media untuk mengungkapkan ekspresi pribadi. Aktivitas mereka sering kali tak komersial. Jadi, kalau ditawari ikut lelang seperti saya, mereka pasti akan seperti rusa masuk kampung. Celingukan, kebingungan.
Harap maklum, blogger itu bukan calo euy ….
Mungkin karena “blogger” itu adalah “pekerjaan baru”. Banyak yang masih belum mengerti Mas…
Setuju 100%, kalau blogger ikutan tender nggak lah yaoo amit-mit jabang bayi
asyik juga, tuh. berapa duit?
wah kalo gini terus, jangan-jangan nanti syarat untuk bikin blog harus punya NPWP
Itu betul blog bukan lah calo ,tapi blogger adalah pembuat infomasi ,dan hal hal yang sekiranya berguna untuk para pembaca dan pemirsa yang membuka web atau blog kita ,ada kalanya kita harus belajar marketing online tapi itu bukan dikategorikan sebagai calo tapi sesuai dengan prinsip dan tips online bisnis kita memang harus banyak traffic dan mencari peluang dan target pasar agar blog atau web kita banyak di kunjungi orang lain
Salam
kayaknya blogger musti bikin organisasi. ABI (aliansi blogger Indonesia). biar lebih gampang kalo ada orderan. hehehe…
mengherankan ya … di jaman semaju ini …
Dari postingan diatas harus dibentuk asosiasi Blogger Indonesia nich, ada pengurusnya, ada kegiatannya, ada sumber pendanaannya sehingga Blogger bisa berpartisipasi dalam Kancah yang lebih Luas..
sebagian masyarakat emang masih awam ??
kapan bisa dapat duit dari blog ???
dari sebuah profesi bisa jadi sebuah tradisi, sampe-sampe blogger awam juga bingung nih :-/
Hahaha, mungkin juga nanti berkembangnya ke arah situ mas, emang gak pernah terpikir ya?