Jan
31

Sebagai Perencana Keuangan atau Financial Planner / Advisor independen tidak pernah bosan saya mengingatkan bahwa produk investasi mengandung risiko. Ingat istilah High Risk High Return kan? Kira-kira artinya ya semakin tinggi hasil investasi yang kita dapatkan maka semakin tinggi risikonya. Pertanyaanya, kalau gitu apabila kita ingin mendapatkan hasil investasi yang tinggi berarti kita harus menanggung risiko yang tinggi juga donk? Satu hal yang harus selalu kita ingat adalah bahwa tidak ada satu pun investasi yang tidak memiliki risiko 100 persen. Oleh karena adanya risiko inilah, maka dari itu kita harus melakukan analisa sebelum berinvestasi untuk meminimalkan atau menurunkan risiko investasi tersebut (bukan menghilangkan).
Salah satu teori untuk memperkecil risiko yang sering kita dengar dan sering dipergunakan adalah yang disebut dengan diversifikasi. Pasti pernah dengar donk istilah Don’t put Eggs in One Basket? Yang artinya adalah apabila kita memiliki banyak telur jangan menempatkan semua telur tersebut di dalam satu keranjang. Jadi kalau keranjang tersebut jatuh maka telur-telur tersebut tidak akan pecah semua. Sama dengan investasi. Untuk memperkecil risiko jangan menempatkan investasi kita hanya ke satu produk saja.
Investasi bisa dilakukan dengan menggunakan produk-produk investasi yang ditawarkan oleh institusi keuangan atau produk keuangan maupun menggunakan juga produk non-keuangan. Menggunakan kombinasi dari produk-produk tersebut juga ikut mengurangi risiko.
» baca selengkapnya
Financial Planner, Investasi, perencana keuangan, risiko
Jan
25

Tahun baru semangat baru dan keinginan baru. Semua itu sah sah saja, akan tetapi sudahkah anda anda “ngecek” atau bahasa kerenya review apa yang sudah anda lakukan dengan keuangan anda selama satu tahun terakhir ini?.
Lho, knapa harus di cek? Mungkin itu kata anda dalam hati. Mungkin saja dalam kurun waktu satu tahun terakhir telah terjadi hal-hal didalam hidup anda dan keluarga yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan anda seperti misalnya promosi, kenaikan gaji, menambah anggota keluarga (kelahiran anak baru atau ada anggota keluarga yang ikut tinggal dirumah), kehilangan anggota keluarga (kematian), menambah atau mengurangi hutang dan masih banyak lagi lainnya. Nah, kondisi perubahan ini dapat mempengaruhi perubahan dikeuangan anda dan keluarga.
Bagaimana cara mengetahuinya?. Kalau anda pernah belajar keuangan perusahaan atau akunting dikenal ada istilah rasio keuangan perusahaan, didalam ilmu Perencana Keuangan atau Ekonomi Mikro terdapat juga rasio keuangan yang lebih simpel yaitu rasio keuangan keluarga.
» baca selengkapnya
Aidil Akbar Madjid, Financial Planner, perencana keuangan
Sep
22

Investasi pada produk keuangan dan di bursa seperti reksadana dapat menuai badai. Setelah sempat naik, mulai di pertengahan tahun 2011 ini investasi pada reksadana mengalami penurunan yang cukup dalam seperti halnya terjadi di tahun 2003, 2005 dan 2008 yang lalu. Pertanyaannya yang kemudian timbul adalah “Wah, kalau begitu tidak ada tempat yang aman dong untuk berinvestasi? Apakah tidak sebaiknya dana saya disimpan di rumah saja di lemari atau di bawah bantal?” Menyimpan uang di rumah juga sama berisikonya dengan menempatkan uang di lembaga keuangan. Risiko dicuri oleh orang rumah, dicuri pencuri bisa menyebabkan uang yang kita simpan di rumah berkurang atau hilang.
Di Indonesia masih banyak anggota masyarakat yang tidak bisa membedakan antara menyimpan uang dengan berinvestasi. Apabila menyimpan uang di rumah atau berbentuk tabungan di bank saja mengandung risiko, apalagi yang namanya berinvestasi. Satu hal yang harus selalu diingat adalah bahwa tidak ada satu pun investasi yang bebas dari risiko 100 persen. Oleh karena adanya risiko inilah, maka dari itu kita harus melakukan analisa sebelum berinvestasi untuk meminimalkan risiko tersebut (bukan menghilangkan).
» baca selengkapnya
diversifikasi investasi, Logam Mulia, reksadana
Sep
13
Masih ingat di zaman kakek saya dulu berpesan ke ibu saya, “Apa pun yang terjadi kamu jangan utang”. Zaman dulu utang dianggap tabu oleh banyak orang, tapi zaman sekarang sepertinya orang tidak bisa hidup tanpa utang, apalagi utang konsumtif. Bagi sebagian orang yang bisa atau biasa mengatur keuangannya utang tentu tidak akan berarti apa-apa, akan tetapi bagi mereka yang tidak bisa mengatur keuangan utang , khususnya yang konsumtif, bisa menjadi masalah, terutama bagi kaum ibu-ibu dan atau bapak-bapak yang memang memiliki hobi belanja. Argumentasi dari mereka adalah apabila mereka tidak membeli barang tersebut sekarang, maka kapan lagi?
Kita dibuai-buai dengan mimpi yang dibiayai dengan kredit. Sebenarnya kita tidak mampu atau belum mampu memiliki sebuah barang akan tetapi dengan adanya kredit maka kita dapat memilikinya. Lalu, bagaimana dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR)? Apakah kita harus memiliki rumah tersebut sekarang atau tunggu nanti saja sampai dana kita cukup? Pertanyaan berikutnya yang diajukan adalah “Apabila saya kemudian memiliki sebuah rumah tinggal dengan nilai Rp. 500 juta yang dibeli dengan cara Kredit melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) selama 15 tahun dengan uang muka sebesar Rp. 250 juta dan bunga 15% sehingga nilai rumah plus bunga menjadi kurang lebih sebesar Rp. 630 juta, berapa nilai yang harus dimasukkan ke dalam aset dan berapa yang harus dimasukkan ke dalam kategori utang?”.
Jawabnya adalah aset atau rumah yang sudah dimiliki sebenarnya baru sebesar Rp. 250 juta, mengapa demikian? Sebuah Perencanaan Keuangan khususnya untuk keluarga akan melihat aset adalah sebagai hak atau kekayaan yang dimiliki saat ini dan utang adalah kewajiban yang juga dimiliki saat ini yang harus dibayarkan di masa yang akan datang.
Dalam sebuah proses perencanaan keuangan dikenal dengan istilah aset produktif dan aset tidak produktif serta utang produktif dengan utang tidak produktif. Kita sering lupa bahwa aset tidak hanya berupa dana tunai, dana investasi, rumah dan mobil, akan tetapi meliputi juga nilai tunai asuransi, barang-barang koleksi seperti lukisan, kristal, perhiasan (emas dan diamond), piutang ke sanak saudara atau tetangga, serta aset lainnya seperti uang pertanggungan asuransi, keahlian khusus dan lainnya.
Beberapa jenis utang antara lain; pembelian rumah, mobil, kartu kredit (konsumtif) dan utang lain-lain. Ada juga utang yang sering terlupakan oleh perorangan yaitu utang pajak, yang kalau tidak dibayar denda dan penalty nya tinggi.
Seperti yang sudah dibahas di awal bahwa orang berargumentasi bahwa apabila tidak berhutang bagaimana caranya mereka bisa memiliki aset tersebut sekarang? Atau mereka berkata, “kapan lagi bisa punya aset”?. Sementara untuk menabung atau investasi akan memakan waktu yang lama sehingga tetap saja aset tersebut tidak terbeli. Oleh sebab itu Sindrom Miliki Sekarang Bayar Belakangan akan menjadi kebiasaan buruk di masyarakat. Terkadang ada orang yang masih mencicil utang dari asetnya sementara asetnya sendiri sudah tidak dipakai atau rusak, contohnya: pembelian TV, alat-alat rumah tangga, alat-alat dapur dan kebutuhan konsumtif lainnya yang banyak sudah tidak terpakai.
Perencana Keuangan tidak melarang berutang. Yang harus diperhatikan adalah bahwa berutang diperbolehkan selama nilai dari barang yang telah dibeli secara berhutang juga akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Ini yang dikenal dengan utang produktif.
Sebagai contoh apabila kita membeli TV dengan cara kredit dibandingkan dengan membeli rumah. TV yang dibeli baik secara tunai maupun kredit nilainya akan turun seketika setelah keluar dari toko. Oleh sebab itu mencicil barang-barang tersebut dengan bunga yang tinggi sangatlah tidak bijaksana, karena kita harus membayar biaya bunga yang tinggi sedangkan nilai asetnya menurun sehingga apabila dihitung nilai aset bersih akan menurun.
Untuk membeli rumah secara kredit, dikarenakan jumlah tanah yang terbatas menyebabkan nilai rumah akan selalu naik seiring dengan inflasi. Oleh sebab itu membeli rumah secara kredit (KPR) sangat dianjurkan. Di negara maju seperti Amerika Serikat membeli rumah secara kredit memberikan keuntungan pajak. Bunga pinjaman KPR yang dibayarkan dapat dijadikan sebagai faktor pengurang dari pajak pribadi.
Lalu, seberapa besar jumlah utang yang dapat diambil oleh seseorang? Secara ideal total cicilan dari utang-utang yang diambil oleh sebuah keluarga tidak boleh lebih dari 30% dari penghasilan bersih bulanan (take home pay). Rasio ini lebih dikenal dengan Solvency Ratio. Apabila cicilan utang melebihi persentase di atas maka kita akan mengalami kesulitan untuk membayarnya yang berakibat macet cicilan tersebut.
Berutang tidak disarankan, terutama utang konsumtif. Akan tetapi, apabila diperlukan ambillah utang dengan bijaksana dan hanya untuk aset atau barang yang produktif.
KPR, utang
Sep
8
Apa sebetulnya manfaat Twitter bagi kita? Sekadar sebuah layanan media sosial atau lebih dari itu? Pertanyaan semacam ini menggoda saya pada saat jumlah pengguna microblogging itu semakin banyak. Di Indonesia saja diperkirakan ada sekitar 6 juta orang, terbanyak ketiga di dunia.
Setelah lebih dari dua tahun aktif di media sosial itu dan mengamati aktivitas penggunanya setiap hari, saya melihat Twitter memiliki banyak fungsi atau peran. Ada yang membuka ruang kuliah (orang menyebutnya “kultwit”), meminta dukungan untuk sebuah gerakan sosial, bersedekah, mencari donor darah, berbagi informasi lalu lintas, dan sebagainya.
Bagi sebagian orang lainnya, Twitter adalah tempat sampah yang sempurna untuk menampung semua keluhan. Di sanalah orang mengumpat arus lalu lintas jalanan yang macet, tetangganya yang berisik, pacarnya yang berselingkuh, atau gurunya yang menjengkelkan. » baca selengkapnya
manfaat, Media, sosial, tulis, Twitter