Feb
20
Hari ini, entah untuk keberaparatuskalinya, saya kesal dengan iring-iringan pengantar jenazah (saya yakin Anda juga pernah merasakan kekesalan yang sama). Di tengah kemacetan lalu lintas yang luar biasa, ketika kita mengantri dengan sabar di lampu merah, tiba-tiba segerombolan sepeda motor yang dikemudikan orang tak memakai helm, dengan orang yang dibonceng membawa bendera kuning, meminta semua kendaraan berhenti. Seperti layaknya polisi lalu lintas, mereka mengacuhkan lampu merah dan menghardik siapa saja yang berani melawan. Benar, mereka bahkan lebih galak dari polisi. Lalu di belakangnya beriringan mobil-mobil yang dipacu kencang, Metro Mini sewaan yang penuh penumpang, dan mobil jenazah dengan sirine yang menguing-uing. Mereka lebih istimewa dari mobil ambulance pembawa orang sakit.
Apa hak mereka untuk menyetop semua kendaraan yang berlawanan arah, aturan apa yang membuat mereka bisa menerobos semua lampu merah, siapa yang mengizinkan mereka tak memakai helm dan menghardik orang-orang yang berkendaraan lebih cepat, dan di negara mana selain Indonesia, ada mobil jenazah memakai sirine?
Mungkin ada yang berkata, apa yang mereka lakukan adalah pelaksanaan dari perintah agama. Bukankah Nabi Muhammad SAW berkata: “Bersegeralah dalam urusan jenazah.” Oh, tentu saja perkataan Nabi yang mulia itu benar adanya. Tapi kita salah mengartikannya. Agama tidak pernah menyuruh kita untuk terburu-buru, karena terburu-buru—seperti kata Nabi juga—adalah temannya setan. Yang Nabi perintahkan adalah bersegera. Maksud bersegera di sini adalah, tidak menunda-nunda pemakaman jenazah hingga berhari-hari, hingga jenazah membusuk dan membahayakan kesehatan mereka yang hidup.
Saya jadi teringat kejadian seorang ustadz di Jawa Timur yang tengah mengajar di kelas, tiba-tiba ada yang memberitahu bahwa bapaknya meninggal dunia. Setelah menunduk sebentar, ustadz itu melanjutkan mengajar. Murid-muridnya bertanya, kenapa dia tidak berhenti mengajar sejenak? Setidaknya untuk hari ini? Dia menjawab: “Kewajiban saya untuk memberi manfaat kepada yang masih hidup lebih besar daripada kepada yang sudah meninggal. Jenazah itu tak ke mana-mana, dan kita bisa mengurusnya bersama-sama nanti setelah kelas ini selesai.”
Saat ustadz itu kemudian meninggal dunia, beberapa tahun kemudian, jenazahnya diantar dengan tenang, para pengantar jenazah berjalan lambat, khidmat. Seharusnya, kita lebih hormat dan khidmat dalam pemakaman. Bukan menjadi raja jalanan yang merugikan semua orang.
blom lagi ada yang minta sumbangan di jalan tapi ndak jelas sumbangannya dikasih ke keluarga yang sedang berduka ato ndak.
Kalo saya pribadi bingung dengan pola pikir sebagian masyarakat kita terutama Pribumi,karena setahu saya yang biasa melakukan hal-hal yang tidak beraturan seperti itu biasanya pribumi.Mereka over interpretasikan agama tanpa memahaminya dengan seksama setiap surat-surat yang terkandung di dalam Al-Qur’an.
inilah cerminan tumpulnya pak polisi, gimana ini ? seharusnya baik POLRI, Dephub dan departemen terkait membahasnya dalam RUU. kasihan para pengguna jalan yang lainnya. saya juga pernah sedang menyalip mobil tiba tiba kaget dari arah berlawanan adda banyak pengendara motor tanpa helm berjalan beriringan menguasai semua badan jalan, belum selesai kagetnya mobil saya dipukul sama tiang bendera kuning. dalam hati saya hanya berkata, kasihan amat ini jenazah, maksudnya mau dikuburkan & didoakan, yang ada malah dicerca & dimaki orang. masak sudah mati aja masih bikin susah orang.
Kurasa ndak perlulh kita smpai kesal..jika terjadi demikian,yg hidup ini bersabarlh..apalagi skarang dimana2 macet..berilah jalan pada simayat untuk lewat..ketmpat peristirahatan terakhir..kurasa itupun tdak merugikan anda2 sekalian..seperti anda memberi jalan kepada presiden,jenderal,artis yg mau lewat..
saya sedikit setuju dengan komentar dari Lis, namun apakah dengan sikap arogan nya kita bisa bersabar
tentunya kita bisa lebih jernih melihat tingkat keurgensian nya. yang saya tahu aturan nya kalau untuk orang sakit ambulance boleh mengunakan lampu dan sirene serta melewati lapmu merah tapi untuk orang meninggal hanya bloeh mempergunakan lampu tanpa sirene dan tetap mengikuti rambu dan isyarat jalanan.
Semestinya ada peraturan lalulintas untuk hal iring2an jenazah ini, contohnya saja jenazah yg diberangkatkan dengan menggunakan pesawat terbang mengikuti aturan penerbangan internasional.
Apa jadinya kalau tidak ada aturan?
cermin bangsa primitif
saya setuju dengan intrepetasi yg salah sebagian masyarakat kita dari ayat2 Al-qur’an..
dan saya jga setuju dengan perlunya polisi untuk ikut membuat RUU ini..
Yang mati udah tentu mati,yang hidup perlu menghormati undang2 agar keharmonian masyarakat dapat terpelihara.Kebebasan yang melampau kadang kala bisa menyukarkan agenda memajukan negara dan warga.Indonesia memang unik terutama dengan ha2 yang pelik.
di indonesia memang banyak yang tidak jelas, menurutku memang harus diatur, kalo tidak salah di uulj sudah diatur siapa yang boleh pake sirine dan mendapat prioritas di jalan:
1. ambulans orang sakit
2. pemadam kebakaran yg sedang bertugas
3. polisi dan tni yang sedang bertugas darurat
4. pejabat tinggi (pres dan wapres)…. kalo pejabat dibawahnya (menteri dll) gak perlu lah.
terkait iring-iringan mobil jenazah, saya setuju diatur mereka tidak boleh arogan, namun yang lain bolehlah memberi ruang kepada mereka..
Tepat sekali pendapat rfsandhi.Yg engak enaknya disini,mengapa mereka berlagak arogan,sampai mengherdik pengguna jalanraya yang lain sedang mereka sendiri tidak memakai helm.Indonesia pu satu,baru berura2 mau mewajibkan memakai helm sedang negara maju lain sudah lama menamalkanya.Mengapa kita selalu saja jauh ketinggalan dibelakang.
“Ya, begitulah orang-2 ITU :
.
1.Untuk mereka yang dalam kondisi kritis dibawa ambulan dengan sirine yang juga meraung-raung, orang-orang enggan memberi jalan orang yang kondisinya kritis tersebut !!
.
2.TETAPI, untuk orang yang meninggal, orang-orang yang mengantar malah memaksa orang lain tunduk kepada pengantar tersebut, agar orang-2 lain di jalan memberi jalan kepada ambulan yang membawa jenazah !.
.
~Dalam hal yang pertama di atas, yaitu Orang yang sakit keras / kritis, Justru memerlikan penangan yang sangat sangat harussegera!, karena setiap milidetik adalah penentuan terselamatkannya nyawa, kehidupan orang yang sakit keras / kritis tsb. Begitulah kebanyakannya orang-2 ITU –> TIDAK/KURANG MENGHARGAI HIDUP dan KEHIDUPAN, MAIN SELONONG Di JALANAN, BAIK PENGENDARA, MAUPUN PEJALAN KAKI, dll, dll.
.
~Untuk hal yang kedua, halnya adalah ‘lebih cepat sampai di pemakaman, lebih baik’.
.
dan orang-orang itu kebanyakannya beraninya bergerombolan, dan main keroyok fisik
.
tulisan ini merupakan fakta sehari-hari, dan disajikan dalam bentuk ‘otokritik’.
.
~c.
Pak polisinya kerja apa mas.Indonesia bisa jadi negara Sirinenya cuma diguna membodek pak menteri yang korup
.
singkatnya, orang-orang gerombolan itu lebih menghargai kematian daripada kehidupan !
.
Apabila yang dilarikan di ambulan itu Orang yang sakit keras, perlu penanganan yang segera di rumah sakit, demi kelangsungan hidupnya, MAKA orang ‘indonesia’ itu malah mempersempit gerak ambulan itu !!
.
Apabila yang di ambulan itu adalah jenazah dibawa ke liang kubur, maka orang-2 ‘indonesia’ itu malah segera beramai-ramai melapangkan jalan bagi ambulan jenazah itu !!
.
Perbuatan orang di jalan raya itu dan perbuatan gerombolan itu Seakan mengatakan :
“Keadaan Hidup Kritis malah (harus) dibuat susah dan gawat !”
“Keadaan sudah meninggal, dilapangkan jalannya agar cepat sampai !”
.
Padahal, “Keduanya penting, yang satu kehidupan di dunia, dan yang berikut adalah kematian (kehidupan di akhirat).”
Pada hemat sy begini mas,ada pulus semua bisa diatur.Walau pun undang2 jalan-raya,apa lagi Pak Polisinya enggak kreatif bagi menguatkuasakan undang2 bagi keharmonian masyarakat.Dalam hal sebegini,apa salahnya kita meniru negara tetangga,M’sia umpamanya kalau ia bisa membawa kemajuan.Hakikatnya kita memang selalu arogan,enggak mau mengaku kelemahan diri,bagaimana mau maju.Korupsi aja udah mendarah-daging.
yang lebih parah, ada jalan pintas justru dilewatkan jalan raya.Tujuannya cari uang yang ujungnya buat beli miras
Setuju dengan Qaris! Di situ ada kesalahpahaman bahwa mayat harus segera di makamkan, harus terburu-buru, sehingga boleh melanggar aturan lalu lintas. Salah paham! Saya kira yang kesal dengan perilaku itu, bukan hanya kita, tetapi banyak orang lain juga. Dengan membawa jenazah, seakan aturan lalu lintas boleh didelete…Padahal, lalu lintas itu bukan milik orang seorang, ini jalan umum. Saya setuju pelanggar lalu lintas jenis ini juga perlu ditilang, kalau perlu dengan denda yang besar. Tetapi jangan lupa sosialisasinya, agar masyarakat tahu.
Ya mas Geng, aku juga setuju. Ada kelompok bangsa ini yang minta perhatian dr orang lain meski itu melanggar ! Sabaaar !
Yang hidup bersabarlah. Nanti kalau kita yang mati juga pasti pengen cepet dikubur mumpung ada yang nganter. Daripada mayatnya disuruh jalan sendiri ke kuburan ‘kan syeremmm.
ya.. kita memang sedang butuh bimbingan dalam hal saling bertenggang rasa dan tepo seliro… sayangnya skrg ini pelajaran P4 dan Pendidikan Moral Pancasila sudah ditinggalkan padahal ada nilai-nilai budi pekerti yg baik dan bisa diterapkan dalam hidup kita. Yang ada sekarang adalah mendahulukan kepentingan masing-masing.. ngga perduli urusan orang lain apalagi kalo udah rame-rame… kayak udah ngga ada tuh namanya peraturan.
lha itu salah satu tugas polisi sbg penunjuk jalan jangan kalau cina mati mau mengawal kalau rakyat jelata enggak di kawal,jangan salahkan rakyat yg sukarela maungawal karena mereka memang enggak disekolahin untuk itu jadi harap bersabar tuan tuan dan nyonya2 entar lu juga akan menyusul dicabut nyawa lu dan anda tidak akan bisa menghindar tau nggak lu.
jadilah orang cerdas spiritual, cerdas in telektual dan cerdas emosional. segalanya akan damai bahagia dunia dan akhirat.
untuk membuat negara di mana masyarakatnya damai aman dan sentausa, mereka harus pandai, untuk pandai harus sekolah, untuk bisa sekolah biayanya harus murah/bahkan gratis tapi bermutu. karena pejabat kita moralnya bobrok rakyat jadi sengsara dan bodoh, yang akhirnya menjadi pemarah. ingat sabda Rasul :”kaada al-faqru an-yakuuna kufron”. karena kemiskinan akan dapat merubah watak manusia menjadi kufur (mengingkari kebenaran)- yang benar dianggap salah dan yang salah dianggap benar.
lihat para penegak hukum di negara kita, dari mulai kepolisian, kejaksaan, kehakiman dan para pengacara mayoritas oknumnya di sana adalah pemeras, penipu, pembohong dan perampok. kapa negara kita diurus oleh orang-orang yang memiliki moral terpuji. jangan masih ada anggapan jujur terkubur, yang kufur makmur– itu falsafah syethan. berarti mereka yang menduduki ke-4 institusi tadi mayoritas bermoral syethan, dan mereka akan menjadi penghuni neraka.
Indonesian life style….
Arogan…..
hanya ahlak mulia lah yg mampu menembus berbagai golongan
Rosulullah SAW bersabda:
innama buistu liutamima makarimal ahlak
disinilah diperlukan pemahaman fiqih prioritas
ITULAH INDONESIA…..
gimana sih… masih hidup susah…udah meninggalpun masih susah .kapan senengnya kalau begini…..?
Kelakuan tiko memang kayak begitu.
uull telah mengatur, salah satu yg didahulukan adalah rombongan pengantar jenazah, dasar saja memang banyak rakyat Indonesia tidak punya rasa hormat, banyak amat rakyat Indonesia merasa lebih dari yg lainnya, dan tidak memahami mana hak, kewajiban dan tanggung jawab, inilah pokok persoalannya ……
biarkanlah orang mati itu lewat, nanti juga kalo kita-kita pade mati, begitu juga. udah lah gitu aja kok repot. gak usah dibahas lagi deh.
Prihatin ya? mengamalkan satu sunnah rasul tapi mengabaikan banyak contoh kesantunan beliau.
salah satu cermin masih belum terdidik dan beradabnya bangsa indonesia, tdk bs memilah dan memilih mana yg “urgent” dan mana yg “important”. Utk urusan menghantar jenazah saja msih jd persoalan, apalagi mengurus yg masih hidup?
@bung b chandra fa izin share, saya baru tersadar akan hal itu. terima kasih.
ya kita sama2 mengertilah. memberi jalan dan oengiring jangan arogan.
nice posting.
Saudaraku semua, sebenarnya untuk permasalahan pengantar jenazah seperti ditulisan ini meskipun sering mengalaminya. Tetapi saya dapat mengerti dan memakluminya. Jika pengantar Jenazah tidak melakukan hal seperti itu, mungkin jenazahnya akan lama sampai di Makam. Cobalah anda bayangkan, jika yang diantar itu adalah Jenazah anda sendiri, apakah anda akan bilang kepada rombongan yang mengantar MAYAT anda ” oi, pengantar, santai aja..jangan buru-buru ke makam, saya takut karena disana malaikat sudah menunggu mau mengebuki saya…!!”. Karena itu, ya maklumi saya dan berikan jalan jka anda mengalaminya..
Salam hormat.
Sebaiknya kita berpesan sama keluarga kita, nanti kalo meninggal jangan merepotkan orang lain, saat antar jenazah Semoga saja dengan berbuat yang menyenangkan orang banyak malah didoakan sama yang berada di jalan.
lebih baik berusaha menahan emosi, walaupun meledak ledak. ujungnya kita juga calon mati, dan sering banyak berkumpul orang sholeh dan berbuat baik agar banyak yang ringan untuk mendoakannya dengan iklas.
Ya…. sabar,
Itu kata yang paling tepat, mau marah, toh mereka sudah mati tidak ada gunanya marah dengan pengantar jenazah, paling ribut, untung-untung malah kena pukul atau tendangan mereka, sabar itu bagian dari iman.
Udah begitu, banyak kali orang/pengendara lain mengambil keuntungan dari jenazah/pengantarnya, mereka itu bukan pengantar/keluarga jenazah tapi ikutan melaju, gak mau yang macet! He, rupanya ada hikmahnya bagi orang yang gak sabar dilalin!
Innalillahi……..
ada hikmah di balik semua itu…
* lha itu salah satu tugas polisi sbg penunjuk jalan jangan kalau cina mati mau mengawal kalau rakyat jelata enggak di kawal *
Bambang, anda ini dungu namun banyak bicara. Apakah anda tahu bahwa di dalam ajaran agama Budha ada keyakinan dan kepercayaan jam dan hari tertentu yg dianggap baik, dlsb? Itu yang mendasari keinginan mereka tidak terlambat/melampaui waktu yang diyakini baik. Kalau di Indo ini ngga macet, apakah masuk akal mereka mau keluarkan uang jutaan demi dilancarkan? (lah memang sudah lancar kok) Kalau anda baca komentar lain ttg agama lain yang tidak memiliki kepercayaan ttg waktu dan hari baik, itulah pihak2 yang anda perlu salahkan karena menginterpretasikan dengan salah ajaranNya. Pikiran anda hanya RASIS!!!
Kedunguan bangsa ini adalah bersabar utk kesalahan orang lain, inilah hasilnya. Kesalahan (sengaja maupun tidak sengaja) semakin banyak dan makin menjadi-jadi… pikiran pelaku: “kemarin boleh/dikasih lewat, kenapa hari ini ngga?”.
iya, begitulah yg terjadi..
ketika agama dijadikan budaya, dan pola fikir hermeneutika terjadi..