Feb
23

Sebagai seorang Perencana Keuangan atau Financial Planner / Financial Advisor, tidak lepas dari produk investasi dan mengamati bursa yang masih naik turun secara “liar” ini membuat semakin menarik untuk disimak. Peranan media yang terkadang memberikan berita sepotong-sepotong atau terkadang memberikan berita yang bagus-bagus saja memberikan pelajaran yang sangat bagus kepada investor dari sisi berfikiran positif. Akan tetapi pemberitaan seperti ini juga membuat banyak investor amatiran yang tiba-tiba merasa mengerti dan jago berinvestasi alias menjadi fenomena “Mendadak Jago” bermain saham versi 1. Hal ini cenderung mendidikan masyarakat untuk menjadi “pedagang” saham yang melakukan transaksi jual-beli aktif (trading), bukan menjadi investor sungguhan yang membeli saham di harga murah dan menahannya untuk jangka panjang.
Ada lagi yang saya sebut dengan “Mendadak Jago” versi 2. Ceritanya begini, Sebut saja namanya Andi (ini berdasarkan kisah nyata, nama hanya samaran) bekerja sebagai seorang manajer disebuah perusahaan telekomunikasi selama bertahun-tahun (ini juga samaran). Karena berpengalaman dan mengerti jenis usaha serta potensi usaha kedepannya maka Andi membeli saham perusahaan tempat dia bekerja dan 1 saham perusahaan telekomunikasi lainnya. Tebak apa yang terjadi? Sahamnya naik cukup tinggi dan memberikan keuntungan yang sangat besar atas investasinya.
» baca selengkapnya