Enak di Blog dan Perlu

Portal

Adakah pencapaian dramatis dalam setahun hidup kita yang sudah lewat? Setelah menyusuri balik dari Januari hingga hari ini, boleh jadi kita merasa menemukan semacam titik nadir. Tidak ada pencapaian luar biasa yang berhasil kita raih. Setidaknya, begitulah yang kita rasakan.

Mengapa bisa? Kita lazimnya baru menyadari situasi seperti ini tatkala melakukan rekapitulasi pribadi, menimbang-nimbang yang sudah kita kerjakan, apa yang kita raih, apa yang seharusnya kita lakukan tapi belum, dan apa yang ingin kita jalankan selanjutnya.

Menyesal? Setiap orang mungkin pernah mengalaminya. Tapi, penyesalan yang menyita waktu terbanyak dari yang kita punya hanya akan memperburuk keadaan. Bette Graham sempat mengutuki nasibnya ketika ia dipecat dari bank tempatnya bekerja. Namun, ia segera menemukan mutiara yang kelak membuat hidupnya lebih cemerlang.

» baca selengkapnya

Banyak sekali buku yang terbit di Indonesia tahun ini. Jumlah judul buku terjemahan kemungkinan masih lebih banyak dibandingkan dengan jumlah judul buku asli berbahasa Indonesia. Saya katakan mungkin, karena perkiraan ini hanya berdasarkan penglihatan selintas di rak-rak toko buku.

blog-tembok-besarDi antara judul-judul itu, banyak yang menarik untuk dibaca karena memang bagus dari segi isi, desain sampulnya, tata letak isinya, cara menyajikannya, bahasa ungkapnya, maupun isi materinya. Banyak pula yang layak untuk memperoleh perhatian karena kebaruan temanya.

Sebagian naskah asli ada yang digarap serius, seperti buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jemarinya, tapi banyak pula buku yang digarap dengan gaya ‘kejar tayang’ seperti di dunia sinetron. Buku-buku seperti ini ditulis cepat karena “mengejar” momen tertentu.

Anda mungkin menemukan buku-buku terbitan 2011 yang menarik dan layak dibaca. Entah itu non-fiksi ataupun fiksi. Naskah Indonesia asli ataupun terjemahan. Nah, berikut ini beberapa buku non-fiksi yang menurut hemat saya menarik dan layak dibaca. Anda mungkin punya judul-judul lain yang tak kalah menarik.

» baca selengkapnya


Pertengahan Desember lalu Tempo.co mengajak teman pecinta-pecinta seni dance untuk “memanaskan” Pondok Indah Mal. Ternyata, sambutannya cukup meriah.

Flash mob atau kadang ditulis flashmob adalah upaya menarik perhatian publik yang dilakukan oleh sekelompok orang. Mereka bisa menari, menghibur atau sekadar duduk-duduk.

» baca selengkapnya

,

Suatu ketika, dalam Perang Dunia II, jenderal legendaris Dwight Eisenhower tengah berjalan di dekat Sungai Rhine. Ia bertemu seorang prajurit Amerika yang wajahnya tampak kusut. “Apa yang kau rasakan, Nak?” tanya sang jenderal. “Saya sangat gelisah,” jawab prajurit. “Kalau begitu,” kata Eisenhower, “aku dan kamu merupakan pasangan yang baik, sebab akupun merasa gelisah. Mungkin kalau kita berjalan-jalan bersama, kita bisa saling membantu.” Tak ada makian, bahkan tak ada nasihat yang terucap dari bibir Eisenhower.

Jenderal legendaris itu telah menunjukkan rasa empati kepada prajuritnya yang sedang gelisah. Ia berempati dengan memperlihatkan perasaan serupa, dan ini sama sekali bukan tindakan yang merendahkan diri seorang jenderal. Eisenhower justru memberikan dorongan semangat dengan cara menempatkan diri bahwa meskipun ia seorang petinggi militer, ia pun bisa mengalami hal serupa.

Tapi lain lagi apa yang dilakukan oleh manajer yang kurang peka. Belum lama ini, seorang kawan ‘curhat’ tentang perlakuan yang ia terima dari manajernya. Kegagalannya dalam meraih target berbuah kritik pedas yang menjurus pada sisi pribadi. Ia dianggap tidak cukup pintar melakukan apa yang seharusnya ia kerjakan. Di saat seperti itu ia merasa ‘sudah jatuh tertimpa tangga’. Alih-alih memperoleh komentar yang memompakan semangat, yang ia dapat malah kritik pedas yang menciutkan hati.

» baca selengkapnya

, ,

Banyak orang mengeluh lupa nama kawan, tidak mampu mengingat di mana menaruh kunci atau dompet, bahkan ketika tiba di sebuah toko tidak ingat mau membeli apa. Kalau sudah begini, biasanya kita jadi kesal, uring-uringan.

‘Lupa ingatan’ seperti ini biasanya terkait dengan memori biasa. Kebanyakan orang beranggapan bahwa memori biasa bertanggungjawab atas tingkat intelegensinya. Bila mereka menemui masalah dalam berpikir, mereka menyalahkan memori biasa dan tidak mencoba melihatnya lebih jauh.

blog-memori-inteligenSebenarnya, menurut Barry Gordon, kemampuan mengingat fakta-fakta tidak terlalu berkaitan dengan kecerdasan. Orang-orang yang mampu mengingat banyak fakta tidak selalu lebih cerdas. Ada orang yang mudah mengingat fakta-fakta, tapi tidak cukup cerdas untuk menarik hal penting dari fakta-fakta itu. Sementara, ada orang yang memori-biasanya lemah, seperti pengidap amnesia, ternyata mampu mempertahankan inteligensinya. Mengapa begitu? Sebab pengidap amnesia masih memiliki apa yang disebut memori inteligen.

» baca selengkapnya

, ,

selanjutnya »