Feb
15
Setiap anak dilahirkan dengan membawa pesan bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia. Penyair India, Rabrindanath Tagore, pernah menuliskan kalimat yang menggetarkan itu dalam sebuah karyanya.
Mungkin Tagore ingin mengingatkan orang tua untuk menjaga anak-anak mereka. Barangkali juga, itulah cara Tagore membayar kepedihan masa kecilnya.
Sebagai anak bungsu, dia tak sempat mengingat wajah ibunya. Dia pun tumbuh sebagai pemurung dan suka menyendiri, termangu di jendela menatap ke taman. » baca selengkapnya
Facebook, kasus, penyair, rabrindanath tagore, tagore
Feb
12

Satu-persatu orang yang tersangkut kasus Bank Century sudah bicara baik di media massa maupun di hadapan Panitia Khusus Hak Angket Kasus Century. Cuma satu nama yang sering disebut-sebut tapi tak pernah muncul ke publik, padahal informasinya bisa jadi paling penting karena dialah deposan terbesar Bank Century: Boedi Sampoerna.
Tak heran media mengejar-ngejar generasi ketiga kerajaan bisnis Sampoerna ini. Namun keberadaannya tak pernah terendus wartawan. Boedi sendiri baru muncul ke publik dua pekan lalu saat datang ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Saat itupun mulutnya terkunci.
Benarkah Boedi tak pernah diwawancara? » baca selengkapnya
Feb
9
“Pizza… pizza, kami mau pizza,” kata seorang teman.” “Domba Afrika saja,” teman yang lain berteriak.
Kehebohan itu terjadi setelah tersiar kabar Koran Tempo diumumkan meraih penghargaan Anugerah Jurnalistik Pembangunan 2009 Adinegoro untuk kategori penulisan tajuk atau editorial terbaik berjudul “Berikan Keadilan bagi Prita”.
Velbak pun heboh. Kemenangan itu membuat kami “terbelah”, gara-gara hadiah Rp 50 juta. Ada kubu yang berpendapat ini adalah “uang negara” yang tak dibagi-bagi. Artinya, hadiah itu masuk ke kantong perusahaan. Banyak wartawan yang mendukung ide ini. Sebelumnya, memang ada preseden bahwa tajuk Koran Tempo menang penghargaan dan hadiahnya diserahkan kepada “negara” alias perusahaan..
“Itu preseden buruk,” kata Daru Priyambodo, Redaktur Eksekutif Tempo News Room. Menurut dia, hadiah tersebut adalah “uang rakyat” yang harus dibagi-bagi dalam bentuk pizza, comro, atau martabak.
“Ide menulis tajuk itu kan kami yang memutuskan di rapat pagi,” kata Tulus Widjanarko, Redaktur Pelaksana Bidang Nasional. Wajahnya pura-pura serius. Tapi, orang tahu dia setengah bercanda. “Kalau tak ada kami, mana bisa penulis tajuk itu menulis topik itu. Jadi, kami berhak mendapat hadiah.”
Yosep Suprayogi, Redaktur Pelaksana Bidang Metro, ikut-ikutan protes. “Seharusnya saya dan teman-teman yang seruangan dengan penulis yang mendapatkan jatah terbesar hadiah tajuk tersebut,” katanya. “Kamilah pembisik sehingga Sudarsono bisa menulis tajuk dengan baik.”
Menghadapi dua kubu yang siap “berperang” itu Sudarsono, Redaktur Eksekutif Koran Tempo cuma mesem. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. ”Saya masih mengajukan pra peradilan untuk mempertanyakan apakah hadiah ini hak negara, hak rakyat atau hak pribadi alias jatuh ke penulis.”
Terlepas kehebohan itu, kami senang, salah satu karya Koran Tempo mendapat penghargaan. Kehebohan itu cuma bumbu penyedap eratnya kebersamaan kami.
Adinegoro, Koran Tempo, tajuk
Feb
9
“Bisnis musik butuh lebih banyak Lady Gaga.” Sebuah koran bisnis di Amerika menulis itu.
Orang mungkin akan tercengang dengan kesimpulan itu. Lady Gaga, penyanyi dengan dandanan supernorak? Saking noraknya, orang mungkin lupa yang menarik dari Lady Gaga adalah suaranya atau keberaniannya berdandan semau gue–misalnya rambut dibentuk seperti tanduk, sepatu hak tinggi dipegang bersama mikrofon, baju dengan warna-warni yang bertabrakan, atau, aduh, dandanan yang tak memakai rok bawah, melainkan body painting.
Lady Gaga, meski meraih Grammy Awards, bukanlah potret sederet musik yang tertib: lintasan melodi yang apik, suara yang meliuk-liuk indah, atau dentum musik dengan petikan gitar yang mencengangkan. Stefani Joanne Angelina Germanotta nama aslinya. Dia dulu penyanyi pembuka untuk New Kids on The Block dan Pussycat Dolls. Dari penyanyi rock, gadis 23 tahun itu menyeberang ke musik elektronik dan lagu dansa yang berdentam-dentam.
» baca selengkapnya
CD, iTunes, kaset, Lady Gaga, MP3, musik digital, Napster, penjualan cd
Feb
6
Sebuah kabar menarik datang dari Amerika Serikat. Hasil riset mutakhir yang diumumkan kemarin oleh lembaga penelitian Pew Internet menunjukkan bahwa remaja dan anak muda ternyata tak berminat lagi pada blog. Mereka lebih suka aktif di situs-situs jejaring sosial, kecuali Twitter.
Riset yang dilakukan pada September 2009 itu menyurvei 2.253 orang dewasa dan 800 remaja di Amerika untuk mengetahui bagaimana responden memanfaatkan Internet dan situs media sosial yang paling sering mereka akses.
Mengapa ABG (anak baru gede) di Amerika cenderung ogah mengelola blog? Bagaimana dengan para “alay” di Indonesia? » baca selengkapnya
Facebook, perilaku, Pew Internet, remaja, responden, riset, Twitter