Enak di Blog dan Perlu

Digital

Steve Ballmer dan Microsoft. Ah, siapa yang paham dengan duet itu? Orang bilang keduanya boleh dibilang bukan sebuah komposisi yang sedap.

Duet itu tak sekondang Bill Gates dan Microsoft. Duet itu juga terlalu serius, bukan seperti duet Steve Jobs dan Apple yang enak ditonton. Tapi percayalah, lulusan Harvard University berpredikat magna cum laude itu membuat Microsoft bertahan. Apalagi sejak Gates pensiun.

Lelaki botak ini adalah salah satu otak keberhasilan Microsoft. Dia telah bergabung dengan perusahaan tersebut selama 20 tahun. Ballmer adalah karyawan ke-24 Microsoft saat itu. Gajinya sebagai manajer bisnis pertama Microsoft saat itu cuma US$ 50 ribu (Rp 450 juta) setahun. Bukan gaji yang besar untuk lulusan sarjana, bukan pula kecil. Bonusnya adalah 8 persen saham Microsoft.

Meski kelihatannya pendiam, Ballmer sangat eksentrik. Pernah dia membuat video yang disebarkan untuk menyemangati kru Microsoft. Video itu berjudul Steve Ballmer Gila.

Jadi jangan kaget kalau di bawah kepemimpinannya, Microsoft tak surut. Dulu orang berpikir, Gates pensiun, Microsoft habis. Fakta di dinding kantor Microsoft di Redmond, California, berkata lain. Microsoft bertahan, meski digempur Google dan Apple. Harga saham perusahaan yang dibangun dari garasi itu sempat anjlok 50 persen–dari 2007 hingga awal 2009. Tapi kini Microsoft bangkit lagi.
» baca selengkapnya

, ,

BUKAN Mat Bloger namanya bila tak cengar-cengir ketika sedang membaca koran. Bukan hanya karena tampangnya memang seperti orang yang sedang nyengir, kawan baik saya itu hobinya memang cengar-cengir, terutama bila dia menemukan sesuatu yang menggelikan hatinya–seperti yang saya lihat pagi itu.

“Ada apa sih, Mat? Dari tadi senyum-senyum sendiri. Ada yang lucu?”

“Ini lo, Mas. Saya sedang membaca berita yang menggelikan. Sinetron banget,” jawab Mat Bloger.

“Sinetron kok lucu? Apa judulnya?” saya bertanya. » baca selengkapnya

, , , , ,

Pasar modem 3G itu tiba-tiba “pingsan”. Setidaknya itu terjadi di kantor saya. Orang-orang malas membeli modem 3G. Padahal, sebelumnya di kantorku pasar modem 3G cukup ramai.

Tiba-tiba saja juga seperti ada setumpuk keluhan di meja saya. Ada saja teman yang menumpahkan kekesalan kepada saya. “Sinyal 3G si A kok parah banget? Buka Internet lama sekali. Apakah 3G itu kecepatannya seperti itu?” Yang lain menyela, “Rugi saya beli modem 3G si B, Internetnya lelet.”

Karena banyaknya keluhan, sampai-sampai saya bingung, apakah kantor customer service telah pindah ke meja saya. Atau gaya saya mirip mbak-mbak SPG yang kemayu dari operator ponsel.

Jauh sebelum teman-teman datang dengan berbagai keluhan soal itu, saya sudah angkat tangan lebih dulu. Saya punya modem HSDPA (high speed downlink packet access) Si Kuning yang saya biarkan tersimpan di laci. Koneksi Internetnya sering putus atau malah tak nyambung.

PDA saya juga pernah menjadi modem HSDPA dengan layanan Si Merah. Hasilnya sama: koneksi Internet byar-pet. Padahal dua modem itu, konon, mendukung teknologi Internet dengan kecepatan sampai 3,6 Megabit per detik. Faktanya, kerap kali kecepatannya di bawah 100 kilobit per detik.
» baca selengkapnya

, , , ,

Hari ini, entah untuk keberaparatuskalinya, saya kesal dengan iring-iringan pengantar jenazah (saya yakin Anda juga pernah merasakan kekesalan yang sama). Di tengah kemacetan lalu lintas yang luar biasa, ketika kita mengantri dengan sabar di lampu merah, tiba-tiba segerombolan sepeda motor yang dikemudikan orang tak memakai helm, dengan orang yang dibonceng membawa bendera kuning, meminta semua kendaraan berhenti. Seperti layaknya polisi lalu lintas, mereka mengacuhkan lampu merah dan menghardik siapa saja yang berani melawan. Benar, mereka bahkan lebih galak dari polisi. Lalu di belakangnya beriringan mobil-mobil yang dipacu kencang, Metro Mini sewaan yang penuh penumpang, dan mobil jenazah dengan sirine yang menguing-uing. Mereka lebih istimewa dari mobil ambulance pembawa orang sakit. » baca selengkapnya

Beberapa hari ini sejumlah media massa mengangkat isu pemalsuan tugas akademik, terutama skripsi dan tesis, sebagai syarat kelulusan pendidikan di universitas. Tentu saja, maraknya kecurangan itu wajib dipermasalahkan. Tapi, di saat yang sama, saya juga gatal untuk bertanya kepada perusahaan media massa yang mengangkat isu itu: apakah mereka mensyaratkan pendidikan S1 untuk calon pegawai mereka? Jika ya, maka keprihatinan mereka adalah keprihatinan yang percuma.

Kenapa? » baca selengkapnya

selanjutnya »