Enak di Blog dan Perlu

Blog, Digital, Suplemen

Wicaksono

Inilah ritual setiap kali almanak berganti: orang ramai membuat resolusi pribadi. Mereka mencanangkan rencana, tekad, niat, dan aktivitas baru yang akan dilakukannya tahun depan. Para usahawan, misalnya, membuat proyeksi bisnis mendatang. Para seniman merancang masterpiece berikutnya. Karyawan membicarakan rencana kerja tahun depan. Para politikus mengira-ngira kegiatan kampanye terbarunya. Koruptor berniat menciptakan modus kejahatan yang lebih canggih dan seterusnya.

Anda mungkin termasuk orang yang sudah memiliki resolusi pribadi. Apa resolusi Anda? Barangkali ada di antara Anda yang punya resolusi berhenti merokok. Mungkin ada yang ingin beli rumah baru, hidup lebih sehat, lebih memperhatikan keluarga, mau mencari beasiswa, dan lain-lain. » baca selengkapnya

Nur Hidayat

Ketika mimpi tentang negeri yang adil dan makmur belum terwujud, memang ada begitu banyak pertanyaan yang mengemuka. Namun, semua hanya bermuara pada satu tanda tanya besar: kenapa?

Kolom Indra Jaya Piliang berjudul Kalau Bukan Demokrasi, Apa? yang dimuat di Koran Tempo dan Tempo Interaktif mencoba memotret persoalan tersebut. Kolom ini menarik karena dia mampu mengungkap beda pandang tentang pelaksanaan demokrasi di negara kita. Demokrasi bisa berwarna kuning, hijau, dan sebagainya, sesuai persepsi dan kehendak sang penguasa. Begitu juga dengan demokrasi yang kini dikawal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. » baca selengkapnya

Wicaksono

Adakah jalan pintas untuk menjadi pesohor di ranah blog (baca: seleb blog)? Begitulah pertanyaan seorang kawan yang tertarik nge-blog dan maunya langsung terkenal. Seleb blog itu sebutan untuk blogger yang kondang karena tingginya jumlah pengunjung dan banyaknya komentar di blog-nya.

Saya lalu bertanya alasannya mau jadi seleb blog. “Kenapa sampean tak menjadi blogger biasa saja dulu, menulis rutin dan ajek, baru setelah itu — kalau beruntung — sampean menjadi seleb blog?”

“Lah, buat apa kita nge-blog kalau bukan untuk terkenal, Mas? Buat apa kita jadi blogger yang biasa-biasa saja? Lagi pula mengapa harus berlama-lama kalau ada cara cepat jadi seleb? Ini zaman instan, Mas. Semua serba cepat ….” » baca selengkapnya

Wicaksono

Popularitas itu candu yang mengelus ego. Dan sebagian blogger menyukainya. Itu sebabnya, peringkat blogger terpopuler, daftar blogger terfavorit, atau peringkat blogger paling hot — siapa pun pembuatnya dan bagaimanapun metodenya — selalu menarik perhatian.

Begitulah yang terjadi ketika blog Indonesia Matters mengeluarkan Top 100 Indonesian Blog pekan lalu. Para blogger pun ramai-ramai menyelisik satu per satu daftar itu. Siapa tahu blog-nya ada dalam daftar. Yang blog-nya tercantum boleh jadi menyeringai lega, egonya terangkat. Yang namanya tak tertera ada kemungkinan berharap daftar itu bakal berubah suatu saat nanti. » baca selengkapnya

Wicaksono

Kontroversi melahirkan blog kontroversial. Begitulah fenomena yang terjadi di ranah blog. Ketika orang ramai menghujat perilaku para praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri yang penuh kekerasan, misalnya, lahirlah blog IPDNmania pada April lalu.

Blog itu kontroversial karena pengelolanya mengaku sebagai “putra-putri terbaik bangsa” yang menolak diperlakukan tak adil oleh media massa hanya gara-gara ada praja IPDN yang meninggal akibat dianiaya seniornya. Dan, semua posting-nya bernada membela IPDN. Dalam waktu singkat blog itu laris bukan kepalang. Ratusan, mungkin ribuan, orang datang tiap hari. Hingga kolom ini dibuat, blog itu mendapat 97.017 hit. Setiap posting menuai rata-rata lebih dari seratus komentar–sebagian besar mencaci-maki blog ini.

Rupanya sejarah berulang. » baca selengkapnya

selanjutnya »