May
8
Komentar Sandra Dewi
May 8, 2008 | 5 Komentar
Syahdan pada sebuah siang yang lembap, saya sedang leyeh-leyeh di kursi bambu di bawah pohon jambu rumah seorang kawan–sebut saja namanya Mat Bloger. Dia blogger dari jenis yang ingin mendadak kondang seperti artis sinetron. Karena itu, dia selalu bertanya ini dan itu agar blognya juga setenar blog para selebritas.
“Sampean sudah tahu belum, Mas?” tiba-tiba dia bertanya. “Sandra Dewi baru saja memperkenalkan blog pribadinya. Desainnya segar seperti wajahnya yang ranum kemerahan. Tomat muda, Mas.”
Halah. Saya ngakak mendengar caranya berpromosi. Sandra Dewi yang ia maksud adalah bintang film Quickie Express dan bintang sinetron Hidayah, magnet baru industri hiburan asli Pangkalpinang. Ia memperkenalkan blognya pada 2 Mei lalu. Baca selengkapnya
May
4
Keajaiban dari Orchard Road
May 4, 2008 | 4 Komentar
Lelaki itu ternganga di Orchard Road. Bukan gemerlap lampu jalanan yang membuatnya takjub. Bukan pula mobil-mobil luks yang berseliweran di sana. Kecepatan Internet yang benar-benar “wuss”-lah yang membuatnya kagum. Bertahun-tahun malang-melintang di bisnis Internet, seumur-umur baru kali itu ia mencicipi Internet yang superkencang.
Duduk di dalam bus, direktur di sebuah perusahaan penyedia jasa Internet asal Indonesia ini disodori sebuah komputer jinjing yang terhubung dengan Internet nirkabel. “Silakan dicoba Internetnya,” kata petugas dari Singtel sambil tersenyum manis.
Dalam sekejap perhatiannya tersedot ke komputer itu. Jemarinya berlarian membuka tiga jendela di komputernya. Ia menikmati tayangan video streaming, melakukan video conference dengan koleganya, dan menelepon. Ketiganya berjalan amat cepat! Suaranya jernih, videonya juga mengalir halus, padahal bus melaju normal.
Di Jakarta, mustahil menikmati layanan seperti ini. Hatinya berdecak-decak mengagumi kecepatan Internet di Orchard Road itu.
Selamat datang di dunia WiMax! Ya, hari itu adalah hari bersejarah bagi Singapura. Orchard Road pada hari itu disulap menjadi sebuah laboratorium raksasa untuk menjajal WiMax. Ini adalah teknologi baru penerus Wi-Fi. Bedanya, WiMax bisa menyalurkan Internet, suara, dan video berkecepatan tinggi hingga jarak 80 kilometer atau 8.000 kali lipat Wi-Fi. Lihat pula betapa efisiennya pemancar WiMAX dibanding pemancar GSM yang cuma bisa menjangkau 5-8 kilometer.
Dunia “persilatan” teknologi informasi dulu sempat gempar ketika Intel merilis teknologi ini pada 2004. Teknologi itu jauh lebih efisien ketimbang jaringan GSM. Sebuah jaringan GSM terdiri atas sekitar enam lapisan komunikasi. Itu yang membuat jaringan ini menghasilkan Internet yang lelet dan penuh penundaan. WiMax, yang disponsori ahli-ahli komputer, memangkas semua kerumitan komunikasi itu. Hasilnya adalah teknologi yang benar-benar efisien. Ia mengalahkan triple play, yang bisa menyalurkan suara, data, dan video sekaligus, ataupun quadruple play, triple play plus akses secara mobile.
“Lupakan jaringan triple play atau quadruple play. Dengan WiMax, semua layanan itu lewat,” kata Krassimir Stoitcheff, Chief Eexecutive Officer Max Telecom, perusahaan telekomunikasi asal Bulgaria.
“Badai” WiMax sebentar lagi mungkin akan tiba. Di banyak negara, seperti Jepang, Korea Selatan, atau Amerika Serikat, banyak operator telah meletakkan rencana menjual layanan ini. India bahkan telah memulai layanan itu tahun ini. Tata Communications, itulah perusahaan yang telah menggelar layanan ini di 10 kota. “Tahun depan Tata akan menggelar layanan di 115 kota,” kata Prateek Pashine, bos Tata Communications.
Nokia, vendor telepon seluler nomor wahid, juga kepincut layanan ini. Musim panas tahun ini mereka akan merilis peranti Internet tablet berbasis WiMax, yakni Nokia 810. Peranti ini lebih mirip laptop ketimbang ponsel. Bentuknya seperti PDA dengan papan ketik QWERTY yang bisa digeser. Bisa untuk bersenang-senang, menonton video, musik, berselancar di Internet, dan membaca surat elektronik.
Tapi kehebatan itu bagi operator bukanlah segalanya. Telkomsel dan Excelcomindo, misalnya, memilih memakai teknologi jaringan 4G atau biasa disebut Long Term Evolutions (LTE), bukan WiMax. LTE adalah teknologi penerus 3G. Mungkinkah LTE mengalahkan WiMax? Tunggu saja.
May
2
Pasal Karet
May 2, 2008 | 7 Komentar
Saya tak tahu apakah para blogger harus merasa senang atau justru sedih setelah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE) akhirnya diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan masuk Lembaran Negara.
Secara umum, undang-undang itu baik. Ia merupakan payung hukum bagi semua aktivitas dan transaksi di Internet dan media elektronik. Blog, misalnya, terlindungi dari aksi penyamunan digital (cracking), defacing, dan sebagainya.
Namun, ada satu pasal yang agak mengkhawatirkan, yakni pasal 27. Pasal ini melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, serta pemerasan dan/atau pengancaman. Pelanggaran terhadap pasal ini dikenai hukuman pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.
Ini berarti semua dokumen ataupun tulisan yang dipublikasikan di situs dan blog rawan menjadi obyek gugatan. Posting tentang buruknya sebuah produk atau layanan, misalnya, bisa membuat si produsen menggugat seorang blogger dengan tuduhan pencemaran nama baik. Kritik terhadap buruknya kinerja pejabat bisa dianggap penghinaan, dan sebagainya. Baca selengkapnya
Apr
25
Kiblat
April 25, 2008 | 7 Komentar
Pemain ganda. Begitulah seorang kawan menjuluki saya yang jurnalis sekaligus blogger aktif. Tentu saja ia hanya sekadar meledek, meski saya menganggapnya sebagai sanjungan. Apalagi saya memang tak pernah bermain bulu tangkis sebagai pasangan ganda putra ataupun campuran.
Sebagai pemain ganda dadakan, saya sering ditanya blogger yang ingin menulis seperti jurnalis, juga para jurnalis yang mau menjadi blogger. Ini yang membuat saya tak nyaman karena saya merasa belum menjadi jurnalis yang baik, pun bukan blogger piawai. Meski demikian, suka tak suka, akhirnya saya menjalani peran ganda itu semampu saya. Kepada teman-teman blogger saya berbagi kiat menulis dan dengan para kolega, saya berdiskusi soal blog.
Menurut hemat saya, dua dunia itu, blog dan media mainstream, adalah wilayah yang mirip. Blogger pada dasarnya jurnalis, begitu pula sebaliknya. Yang berbeda hanyalah media, tempat mereka berkarya. Mestinya, kedua pihak gampang untuk saling belajar, bukan malah saling menganggap sebagai ancaman. Baca selengkapnya
Apr
18
Kisah Seorang Ibu dan Blog
April 18, 2008 | 13 Komentar
Syahdan pada sebuah siang yang terik, seorang ibu berjilbab tiba-tiba mendatangi kantor teman saya di kawasan Kebayoran Baru. Usianya sekitar 50 tahun. “Saya ingin belajar ngeblog,” kata ibu itu. “Apakah saya harus membayar?”
Teman saya kaget dan terheran-heran. Rasanya baru sehari teman saya itu memperkenalkan layanan free blog hosting miliknya, Dagdigdug, ke publik. Bagaimana bisa secepat itu seorang ibu yang belum pernah dikenalnya mendadak mengunjunginya? “Bagi saya dan teman-teman, ini sebuah keseriusan yang harus dihormati,” kata teman saya.
Bayangkan, kata teman saya, ibu ini memanfaatkan waktu rehat makan siang dan meninggalkan kantornya, sebuah departemen di Jakarta Pusat. Ia naik bus ke Blok M, kemudian disambung ojek menuju ke markas Dagdigdug hanya untuk belajar membuat blog.
Maka, di sebuah meja kecil, sebuah pemanduan singkat pun berlangsung. Laptop teman saya jadi kelas, teman saya jadi guru, dan ibu itu jadi muridnya. Dalam tempo tak sampai satu jam, pelajaran membuat blog itu pun kelar, dan ibu itu tak perlu membayar sepeser pun. Baca selengkapnya