Feb
6
Sebuah kabar menarik datang dari Amerika Serikat. Hasil riset mutakhir yang diumumkan kemarin oleh lembaga penelitian Pew Internet menunjukkan bahwa remaja dan anak muda ternyata tak berminat lagi pada blog. Mereka lebih suka aktif di situs-situs jejaring sosial, kecuali Twitter.
Riset yang dilakukan pada September 2009 itu menyurvei 2.253 orang dewasa dan 800 remaja di Amerika untuk mengetahui bagaimana responden memanfaatkan Internet dan situs media sosial yang paling sering mereka akses.
Mengapa ABG (anak baru gede) di Amerika cenderung ogah mengelola blog? Bagaimana dengan para “alay” di Indonesia? » baca selengkapnya
Feb
2
Inovasi selalu datang dari orang yang melawan “ketertiban”. Charlie Chaplin adalah contohnya. Pada 1920-an, dia datang melawan “keteraturan” dengan menjadi gelandangan kontet, bercelana gombor, dan mengacaukan agen polisi. Tak ada banyolan seperti itu pada masa itu.
Kamis pagi lalu, pertempuran melawan “ketertiban” itu pula yang dilakukan Steve Jobs, bos Apple Inc. Dunia sudah menelan bulat-bulat definisi peranti digital: ada laptop, ada netbook untuk komputer yang kecil dan ringan, ada telepon seluler atau PDA. Di dunia seberang lainnya, ada buku digital, seperti Kindle milik Amazon.com.
>> Dengar juga wawancara Burhan dan Dirgayuza dengan BBC
Jobs melawan “ketertiban” definisi itu. Dia mengawinkan buku digital, netbook, dan ponsel pintar. Hasilnya: iPad. Lupakan buku digital yang kaku dengan layar hitam-putih. Lupakan netbook dengan prosesor lemot dan tak bisa digunakan untuk membaca Lost Symbol karya Dan Brown sembari tiduran atau main game sembari menunggu pesawat.
» baca selengkapnya
Jan
30
Blog menyepi. Twitter kini jadi tempat pembicaraan merek-merek produk teknologi paling ramai di Indonesia. Bagaimana brand memanfaatkan momentum ini?
Mat Bloger sedang menatap senja jatuh di ufuk barat ketika saya lewat di depannya. Matanya kosong, seperti sedang melamun. Ia tak mempedulikan sekitarnya yang gaduh. Bahkan, ketika saya duduk di sebelahnya, ia tetap cuek. Olala, ada apa gerangan ini?
Karena penasaran, saya pun mencolek tangannya dan berteriak, “Woi! Bangun!”
Ia kaget. Saya terkakak-kakak.
“Kenapa sih, melamun? Patah hati, ya? Atau belum gajian?” saya bertanya. » baca selengkapnya
Jan
23
Gerald Harvey Greenfield tiba-tiba bangun dari duduknya. Lelaki itu bukan ingin menambah kopi. “Saya ingin membeli berlian termahal,” katanya sambil berdiri. Tatapan matanya dingin, seolah segalanya bisa dibeli olehnya. Alan Scott Pace, sahabat kentalnya, kaget. Pace tahu, Greenfield orang susah. Persis seperti dirinya. “Bagaimana bisa?” tanyanya.
Greenfield pun membeberkan rencananya: membikin mesin anjungan tunai mandiri (ATM) palsu. Mesin itu dipasang di mal mewah di Manchester, Connecticut, Amerika Serikat. Dengan mesin ATM palsu itulah dia mengeruk data yang bisa digunakan untuk membobol rekening orang-orang kaya. Mal Buckland Hills, di masa itu, adalah tempat yang tepat. Di sana orang-orang kaya dan berparfum mahal biasa menghabiskan uangnya.
“Nekat!” kata seorang polisi. “Belum pernah ada dalam sejarah pembobolan ATM dengan menggunakan ATM palsu.”
» baca selengkapnya
Jan
21
“Anakku… anakku…,” Jeudy Francia berteriak dengan suara parau. Ibu muda itu–usianya baru 20-an tahun–menjerit di luar Rumah Sakit St. Esprit, di pinggiran Port-Au-Prince. Anak perempuannya, umur 4 tahun, sedang sekarat dan terbaring di halaman rumah sakit yang kacau balau. Di dekatnya terbaring puluhan mayat korban gempa Haiti terbungkus seprai putih. Seorang nenek meringis. Kakinya terpelintir bak pretzel, kue asin yang kerap berbentuk angka 8.
“Tidak ada obat-obatan, tak ada perawat, tak ada penjelasan mengapa anak saya sekarat,” kata Francia sembari menangis.
Dokter dan perawat juga bingung luar biasa. “Kami kewalahan. Kami tidak memiliki kapasitas untuk lebih banyak korban. Kami tidak punya waktu untuk berbicara,” kata seorang sukarelawan dari Prancis yang bekerja untuk lembaga Doctor without Borders (dokter tanpa batas).
» baca selengkapnya