Enak di Blog dan Perlu

PENGHARGAAN ADINEGORO.“Pizza… pizza, kami mau pizza,” kata seorang teman.” “Domba Afrika saja,” teman yang lain berteriak.

Kehebohan itu terjadi setelah tersiar kabar Koran Tempo diumumkan meraih penghargaan Anugerah Jurnalistik Pembangunan 2009 Adinegoro untuk kategori penulisan tajuk atau editorial terbaik berjudul “Berikan Keadilan bagi Prita”.

Velbak pun heboh. Kemenangan itu  membuat kami “terbelah”, gara-gara hadiah Rp 50 juta. Ada kubu yang berpendapat ini adalah “uang negara” yang tak dibagi-bagi. Artinya, hadiah itu masuk ke kantong perusahaan. Banyak wartawan yang mendukung ide ini. Sebelumnya, memang ada preseden bahwa tajuk Koran Tempo menang penghargaan dan hadiahnya diserahkan kepada “negara” alias perusahaan..

“Itu preseden buruk,” kata Daru Priyambodo, Redaktur Eksekutif Tempo News Room. Menurut dia, hadiah tersebut adalah “uang rakyat” yang harus dibagi-bagi dalam bentuk  pizza, comro, atau martabak.

“Ide menulis tajuk itu kan kami yang memutuskan di rapat pagi,” kata Tulus Widjanarko, Redaktur Pelaksana Bidang Nasional. Wajahnya pura-pura serius. Tapi, orang tahu dia setengah bercanda. “Kalau tak ada kami, mana bisa penulis tajuk itu menulis topik itu. Jadi, kami berhak mendapat hadiah.”

Yosep Suprayogi, Redaktur Pelaksana  Bidang Metro, ikut-ikutan protes. “Seharusnya saya dan teman-teman yang seruangan dengan penulis yang mendapatkan jatah terbesar hadiah tajuk tersebut,” katanya. “Kamilah pembisik sehingga Sudarsono bisa menulis tajuk dengan baik.”

Menghadapi dua kubu yang siap “berperang” itu Sudarsono, Redaktur Eksekutif Koran Tempo cuma mesem.  Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.  ”Saya masih mengajukan pra peradilan untuk mempertanyakan apakah hadiah ini hak negara, hak rakyat atau hak pribadi alias jatuh ke penulis.”

Terlepas kehebohan itu, kami senang, salah satu karya Koran Tempo mendapat penghargaan. Kehebohan itu cuma bumbu penyedap eratnya kebersamaan kami.

lady_gaga“Bisnis musik butuh lebih banyak Lady Gaga.” Sebuah koran bisnis di Amerika menulis itu.

Orang mungkin akan tercengang dengan kesimpulan itu. Lady Gaga, penyanyi dengan dandanan supernorak? Saking noraknya, orang mungkin lupa yang menarik dari Lady Gaga adalah suaranya atau keberaniannya berdandan semau gue–misalnya rambut dibentuk seperti tanduk, sepatu hak tinggi dipegang bersama mikrofon, baju dengan warna-warni yang bertabrakan, atau, aduh, dandanan yang tak memakai rok bawah, melainkan body painting.

Lady Gaga, meski meraih Grammy Awards, bukanlah potret sederet musik yang tertib: lintasan melodi yang apik, suara yang meliuk-liuk indah, atau dentum musik dengan petikan gitar yang mencengangkan. Stefani Joanne Angelina Germanotta nama aslinya. Dia dulu penyanyi pembuka untuk New Kids on The Block dan Pussycat Dolls. Dari penyanyi rock, gadis 23 tahun itu menyeberang ke musik elektronik dan lagu dansa yang berdentam-dentam.
» baca selengkapnya

Sebuah kabar menarik datang dari Amerika Serikat. Hasil riset mutakhir yang diumumkan kemarin oleh lembaga penelitian Pew Internet menunjukkan bahwa remaja dan anak muda ternyata tak berminat lagi pada blog. Mereka lebih suka aktif di situs-situs jejaring sosial, kecuali Twitter.

Riset yang dilakukan pada September 2009 itu menyurvei 2.253 orang dewasa dan 800 remaja di Amerika untuk mengetahui bagaimana responden memanfaatkan Internet dan situs media sosial yang paling sering mereka akses.

Mengapa ABG (anak baru gede) di Amerika cenderung ogah mengelola blog? Bagaimana dengan para “alay” di Indonesia? » baca selengkapnya

Inovasi selalu datang dari orang yang melawan “ketertiban”. Charlie Chaplin adalah contohnya. Pada 1920-an, dia datang melawan “keteraturan” dengan menjadi gelandangan kontet, bercelana gombor, dan mengacaukan agen polisi. Tak ada banyolan seperti itu pada masa itu.

Kamis pagi lalu, pertempuran melawan “ketertiban” itu pula yang dilakukan Steve Jobs, bos Apple Inc. Dunia sudah menelan bulat-bulat definisi peranti digital: ada laptop, ada netbook untuk komputer yang kecil dan ringan, ada telepon seluler atau PDA. Di dunia seberang lainnya, ada buku digital, seperti Kindle milik Amazon.com.

>> Dengar juga wawancara Burhan dan Dirgayuza dengan BBC

Jobs melawan “ketertiban” definisi itu. Dia mengawinkan buku digital, netbook, dan ponsel pintar. Hasilnya: iPad. Lupakan buku digital yang kaku dengan layar hitam-putih. Lupakan netbook dengan prosesor lemot dan tak bisa digunakan untuk membaca Lost Symbol karya Dan Brown sembari tiduran atau main game sembari menunggu pesawat.

» baca selengkapnya

Blog menyepi. Twitter kini jadi tempat pembicaraan merek-merek produk teknologi paling ramai di Indonesia. Bagaimana brand memanfaatkan momentum ini?

Mat Bloger sedang menatap senja jatuh di ufuk barat ketika saya lewat di depannya. Matanya kosong, seperti sedang melamun. Ia tak mempedulikan sekitarnya yang gaduh. Bahkan, ketika saya duduk di sebelahnya, ia tetap cuek. Olala, ada apa gerangan ini?

Karena penasaran, saya pun mencolek tangannya dan berteriak, “Woi! Bangun!”

Ia kaget. Saya terkakak-kakak.

“Kenapa sih, melamun? Patah hati, ya? Atau belum gajian?” saya bertanya. » baca selengkapnya