May
22
`Kami sudah melakukan banyak perubahan untuk memberikan layanan yang lebih bagus,` ujar seorang manajer baru-baru ini. Dengan bangga ia menceritakan investasi besar yang dialokasikan perusahaannya untuk memperbaiki kualitas layanan, mulai dari perbaikan ruang tunggu, model antrian yang lebih efisien, serta servis yang lebih cepat.
Lantaran itu saya tertarik untuk mendatangi kantor cabang yang ia pimpin. Kebetulan saya ingin membuka rekening. Saat duduk di depan petugas customer service, saya mendapati wajah yang kurang ramah. Permintaan membuka rekening saya memang dilayani, tapi petugas ini bolak-balik bangkit dari tempat duduknya ke tempat lain tanpa ba-bi-bu.
Akhirnya, begitu urusan selesai, saya beranjak dengan satu pengalaman ‘service encounter’ yang tidak terlupakan. Sebenarnya saya tak ingin menceritakan pengalaman ini kepada kawan saya yang manajer itu. Tapi, jika ia tidak tahu, ia akan merasa pelayanan yang diberikan kantor cabangnya “oke-oke saja”.
» baca selengkapnya
May
21
Tahun ini, Observatorium Bosscha genap berumur 90 tahun bila dihitung dari sejak dimulainya pembangunan observatorium ini. Dari segi usia, lembaga penelitian dan pengelolanya niscaya bertambah matang dengan capaian-capaian yang dihargai di mata internasional. Sebagai satu-satunya tempat belajar astronomi yang menyatu dengan ITB, Observatorium Bosscha menjadi kebanggaan masyarakat. Setidaknya nama empat astronom Indonesia, yakni Bambang Hidayat, Moedji Raharto, Dhani Herdiwijaya, dan Taufiq Hidayat, diabadikan sebagai nama asteroid.
Sayangnya, kebanggaan itu tidak ditunjukkan dengan cara ikut memelihara observatorium ini agar dapat selalu berkontribusi bagi pengembangan pengetahuan manusia mengenai benda-benda langit. Lingkungan sekitar observatorium banyak berubah. Permukiman terus bertambah, yang tentu saja tidak lepas dari kemudahan perizinan yang kurang mempertimbangkan keberadaan Bosscha. Vila, hotel, tempat wisata, maupun tempat usaha terus bertumbuh.
Polusi udara dan polusi cahaya menjadi unsur paling memengaruhi kinerja observatorium ini. Intensitas cahaya dari kawasan sekitar lokasi observatorium, maupun Bandung dalam lingkup lebih luas, sangat mengganggu kegiatan penelitian dan peneropongan. Peralatan yang relatif terbatas, dibandingkan dengan perkembangan teknologi teropong saat ini, membutuhkan sokongan berupa perlindungan lingkungan observatorium dari perubahan yang berlebihan. Thailand, misalnya, sudah memiliki teropong berdiameter 2,4 meter–bukti kepedulian pengambil kebijakan terhadap perkembangan astronomi setempat.
» baca selengkapnya
May
19
Sebagian orang mungkin merasa dirinya layak menjadi subyek utama sebuah buku yang mengisahkan kehidupannya: dalam format biografi (yang sepenuhnya ditulis oleh orang lain) ataupun autobiografi (yang seolah-olah ditulis sendiri—memakai pendekatan ‘aku’ atau ‘saya’ dalam berkisah, meski sebenarnya dibantu oleh orang lain). Motif di balik upaya menulis biografi niscaya beragam: mengikuti tren, memelihara popularitas, memeringati suatu momen, ataupun karena hendak mencalonkan diri untuk suatu jabatan politik tertentu. Setidaknya, motif itulah yang kerap ada di sini.
Apapun motifnya, orang bisa menilai mula-mula dan terutama dari karya biografinya. Sayangnya, kualitas biografi di sini seringkali tidak dapat dilepaskan dari motifnya. Akankah seseorang mengisahkan kelemahannya dan sisi buruknya bila ia menerbitkan biografi itu menjelang pemilihan suatu jabatan politik? Rasanya memang tidak akan terjadi. Bahkan, bila penerbitan itu tak terkait dengan urusan jabatan sekalipun, karena orang selalu merasa wajib bersikap ‘jaim’.
Sebuah biografi selayaknya menghadirkan pengalaman hidup yang unik sehingga orang lain bisa mengambil sari-sari dari dalamnya—normatifnya begitu. Tantangan yang dihadapi penulis biografi pun selalu sama: menemukan sudut penulisan yang unik dan mentransendenkan fakta-fakta kehidupan subyek sehingga pembaca bisa ikut memasuki ruang hati orang yang ia tulis. Ini tidak mudah, sebab subyek mungkin tidak selalu jujur mengatakan apa yang ia rasakan dan pikirkan tentang pengalaman hidupnya.
» baca selengkapnya
May
18
Berada di antara buku-buku yang baru terbit ternyata tidak membuat saya terlepas sepenuhnya dari buku-buku yang sudah saya baca. Selalu ada saat-saat ketika muncul kebutuhan untuk membaca kembali (reread) buku-buku lama. Saya tidak selalu membaca satu buku seutuhnya, melainkan sejumlah halaman yang memiliki daya tarik kuat dan memang saya perlukan. Meski kerap pula saya tergoda untuk membaca kembali sebuah buku hingga halaman penghabisan.
Tatkala saya membutuhkan kalimat-kalimat penyemangat, saya menyusuri halaman-halaman yang mengisahkan hidup Njai Ontosoroh, karakter dalam novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Perjuangan Njai Ontosoroh bahwa hidup harus tetap berjalan, dan ia meneruskan hidup dengan caranya sendiri sebagai perempuan pribumi yang dikawini oleh seorang Belanda totok, seolah menyalakan api yang hampir padam. Begitu getir ia menatap kehidupan, tapi ia begitu berani mengarunginya.
Kisah kesakitan yang dialami oleh John Nash, yang ditulis Sylvia Nasar sebagai A Beautiful Mind, juga menjadi pengingat bahwa keterpurukan bukan akhir dari segalanya. Kesanggupan matematikawan jenius ini untuk keluar dari schizophrenia melecut semangat hidup yang melorot direnggut ketegangan: kamu bisa, kamu bisa! Nash, yang menemukan teori permainan dalam matematika, berhasil lepas dari suara-suara yang memburunya. Ia mampu membebaskan diri dari kebisingan yang mengiang-ngiang di otaknya.
» baca selengkapnya
May
15
Phileas Fogg adalah pria lajang kaya-raya yang tinggal di London. Suatu ketika, di bulan Oktober 1872, ia ditantang oleh teman-temannya di Reform Club untuk mengelilingi dunia dalam waktu 80 hari. Lebih lama dari itu, Fogg kalah. Fogg menerima tantangan itu dengan taruhan sebesar 20 ribu poundsterling—angka yang bukan kepalang besar.
Ditemani oleh Passepartout, pelayannya yang berasal dari Prancis, Fogg memulai perjalanan panjangnya dari London. Dari ibukota Inggris ini, ia melewati Terusan Suez, terus ke Mesir, kemudian ke Bombay dan Kalkuta di India, lalu ke Hongkong, dan seterusnya ke Yokohama. Dari sini ia melanglang ke benua Amerika dan tiba di San Francisco untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke New York.
Cerita bertambah seru ketika Fogg dibuntuti oleh detektif Scotland Yard lantaran wajahnya mirip tersangka perampokan di London. Ia juga melewati petualangan lain, menyelamatkan maharani India dari jilatan api pembakaran jenazah dan ditinggal kapal uap saat hendak pergi menuju Yokohama. Di saat yang sama, ia harus segera menyelesaikan perjalanan mengingat waktu yang tersisa semakin pendek. Berbagai alat transportasi yang ada pada zaman itu, seperti kapal uap, gajah, kereta api, maupun balon udara, ia gunakan. Fogg memenangkan taruhan itu ketika tiba kembali di London tepat 80 hari sejak keberangkatannya.
Kisah itu dituturkan oleh Jules Verne, penulis yang dianggap sebagai “bapak science fiction” dalam Around the World in Eighty Days. Karya Verne yang memadukan science-fiction, ketegangan, dan rasa humor ini hadir dalam bahasa Indonesia setelah masa yang panjang sejak terbit pertama kali dalam bahasa aslinya, Inggris. Banyak karya besar dunia yang terjemahan Indonesianya baru terbit setelah beberapa dasawarsa berlalu sejak edisi pertama dalam bahasa aslinya. Betapapun, perkenalan yang tertunda seperti ini tetaplah membawa manfaat.
» baca selengkapnya