Jan
25
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Tahun baru semangat baru dan keinginan baru. Semua itu sah sah saja, akan tetapi sudahkah anda anda “ngecek” atau bahasa kerenya review apa yang sudah anda lakukan dengan keuangan anda selama satu tahun terakhir ini?.
Lho, knapa harus di cek? Mungkin itu kata anda dalam hati. Mungkin saja dalam kurun waktu satu tahun terakhir telah terjadi hal-hal didalam hidup anda dan keluarga yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan anda seperti misalnya promosi, kenaikan gaji, menambah anggota keluarga (kelahiran anak baru atau ada anggota keluarga yang ikut tinggal dirumah), kehilangan anggota keluarga (kematian), menambah atau mengurangi hutang dan masih banyak lagi lainnya. Nah, kondisi perubahan ini dapat mempengaruhi perubahan dikeuangan anda dan keluarga.
Bagaimana cara mengetahuinya?. Kalau anda pernah belajar keuangan perusahaan atau akunting dikenal ada istilah rasio keuangan perusahaan, didalam ilmu Perencana Keuangan atau Ekonomi Mikro terdapat juga rasio keuangan yang lebih simpel yaitu rasio keuangan keluarga.
Apa saja yang terdapat dan harus diperhatikan didalam rasio keuangan keluarga? Terdapat 6 jenis rasio keuangan yang dapat dipakai di Indonesia yang berhubungan dengan keuangan keluarga untuk melihat apakah yang sudah anda lakukan selama ini atau selama setahun terakhir ini masih dalam koridor keuangan yang layak.
1. Rasio Likuiditas
Rasio ini mengindikasikan berapa lama (berapa bulan) anda dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan bulanan anda apabila semua penghasilan tidak ada sama sekali. Hal ini berhubungan dengan dana cadangan atau di ilmu Perencana Keuangan dan Ekonomi Mikro dkenal dengan dana darurat.
Jumlah minimum yang harus dimiliki adalah sebesar 1 bulan bagi anda yang masih lajang, sebesar 2 bulan apabila anda mempunyai 2 tanggungan dan minimum sebesar 3 bulan apabila anda mempunyai 3 tanggungan dan lebih.
2. Rasio Aset Cair (likuid) berbanding Kekayaan Bersih (NetWorth)
Rasio ini mengindikasikan jumlah kekayaan bersih anda yang berbentuk kas / tunai atau setara dengan kas saja misalnya tabungan, deposito, emas, reksa dana pasar uang dibandingkan dengan total kekayaan bersih lainnya. Misalkan anda mempunyai dana kas atau setara kas sejumlah Rp. 100 juta dari total kekayaan bersih anda Rp. 500 juta (termasuk rumah tinggal dan kendaraan), maka rasio aset cair anda adalah sebesar 1/5 dari kekayaan anda atau sebesar 20%. Adapun dana anda yang harus berbentuk aset cair adalah minimum sebesar 15%.
3. Rasio Hutang terhadap Aset
Rasio keuangan ini menunjukan kemampuan anda dalam membayar kewajiban / utang-utangnya. Rasio ini adalah cara lebih luas untuk menghitung tingkat likuiditas. Rasio ini dapat juga dipergunakan untuk menghitung tingkat solvency atau kemampuan membayar utang-utang dimana apabila seluruh aset dijual anda mampu menutupi seluruh hutang keluarga yang anda miliki.
Apabila kondisinya aset anda kurang untuk menutupi hutang anda (kecuali pinjaman pembelian rumah /KPR), maka anda dapat dikategorikan bankrut.
4. Rasio Menjaga Hutang
Rasio keuangan ini menunjukan seberapa banyak dana dari penghasilan anda yang akan dipakai untuk membayar kembali hutang-hutang. Rasio ini mengindikasikan apakah anda dapat menjaga/memaintain (memenuhi & memelihara) kewajiban-kewajiban anda.
Maksimum antara 30%-35% dari penghasilan utama bulanan yang dapat dipakai untuk membayar cicilan bulanan hutang.
5. Rasio Investasi Bersih berbanding Kekayaan Bersih
Rasio ini akan membandingkan nilai Aset yang telah anda Investasikan dengan Nilai Kekayaan Bersih yang anda miliki. Rasio ini sangat membantu dalam menunjukan sampai dimana pengetahuan anda tentang investasi dan akumulasi kekayaannya untuk memenuhi tujuan keuangan.
6. Rasio Tabungan
Rasio ini berguna untuk menunjukan apakah anda telah menabung cukup dana untuk memenuhi kebutuhan keuangan anda dimasa yang akan datang.
Banyak buku referensi dari luar negeri mengatakan minimum tabungan / investasi bulanan adalah sebesar 10% dari penghasilan. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah 10% ini untuk standard negara maju (Amerika, Eropa dll) dimana inflasi rata-rata dinegara tersebut adalah dibawah 10%. Sedangkan di Indonesia dimana inflasi rata-rata di 12% maka minimum tabungan/investasi bulanan adalah 15% dari penghasilan dan idealnya adalah minimum 20%-25%, semakin banyak ya semakin bagus.
Dapat dilihat bahwa pentingnya melakukan cek ulang atas keuangan dan investasi anda dan keluarga minimum setahun sekali sehingga dana anda tidak melewati batas-batas rasio ideal yang ditentukan sehingga dapat membahayakan keuangan anda dan keluarga.
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Aidil Akbar Madjid
AFC Financial Check Up
Jan
25

Krisis adalah kutukan bagi banyak pengusaha. Tapi tidak bagi Intel. Saat banjir menghantam Bangkok, Thailand, banyak perusahaan multinasional menangis. Pabrik hard disk Intel juga sekarat direndam air bah. Mereka kelimpungan. Sampai-sampai pendapatan Intel kuartal ini terjun bebas dari US$ 14,7 miliar menjadi US$ 13,7 miliar.
Tapi krisis tidak dibiarkan oleh Intel melarutkan semua laba. Tiba-tiba terbetik ide di kalangan insinyur Intel, mengapa tak mengembangkan produk yang tak memakai hard disk? Eureka! Tiada hard disk, SSD pun bisa. SSD atau solid state drive adalah tempat penyimpanan data yang berbeda dengan hard disk. Dia tak punya cakram atau magnet. Penyimpanannya memakai cip atau seperti flash disk.
“Krisis tak pernah dibiarkan melarutkan pendapatan Intel,” begitu koran Wall Street Journal menulis. Ya, Intel pun serius mengembangkan produk berbasis SSD. SSD ini lebih mahal 10 kali ketimbang hard disk, tapi lebih irit baterai. Kebetulan krisis di Thailand itu klop dengan roadmap Intel, yang ingin membangkitkan kembali bisnis laptop. Maka, jadilah ultrabook, laptop tipis, ringan, tapi kualitasnya tak kacangan, seperti netbook.
“Kami ingin memanfaatkan situasi ini sebagai sebuah peluang,” demikian pejabat Intel berbicara dengan pede.
Pasar laptop sebelumnya memang sempat merana. Mereka dipukul oleh demam penggunaan netbook. Setelah itu, datang lagi tren menggunakan komputer tablet. Pasar laptop nyaris babak belur.
Belakangan, banyak orang yang membeli tablet sadar bahwa mereka tak bisa berbuat banyak dengan tabletnya. Mereka butuh laptop setipis tablet, tapi dengan kinerja bagus. Maka saat Apple dan Intel meluncurkan ultrabook pertama, yakni MacBook Air, orang pun berduyung-duyun membelinya.
Intel terjun ke zona bisnis yang, menurut istilah pemasaran, masih “blue ocean”, sedikit rival dan banyak peluang. Rival-rival mereka, seperti AMD atau Texas Instrument, belum melirik pasar ultrabook ini. Inilah hebatnya Intel, mengubah krisis menjadi peluang.
Kini pasar telah melihat bisnis ultrabook menggeliat. Setelah MacBook Air hadir, datang Acer S3, disusul Asus Zenbook UX31, dan Lenovo Ideapad U300S. Modal mereka tak cuma semangat atau model bisnis “me too” (ikut-ikutan). Kisaran harga ultrabook ini dari Rp 8 jutaan sampai Rp 15 jutaan. Angka itu berkali-kali lipat dibanding netbook. Segmen peminat netbook dan ultrabook ini memang berbeda, seperti bumi dan langit. Netbook kebanyakan diminati oleh mahasiswa, sedangkan ultrabook kebanyakan digunakan kalangan profesional. Jadi ultrabook tak akan mengambil pasar netbook, juga tak melahap pasar tablet.
“Permintaan akan laptop tetap tinggi,” kata Stacy J. Smith Direktur Keuangan Intel.
Acer juga menyimpan rasa optimistis yang sama. “Bisnis ini masih bersinar,” kata Chief Executive J.T. Wang. Para pejabat Acer malah percaya gabungan antara ultrabook dan kehadiran software baru, Windows 8, akan menjadi sumber uang baru.
Era laptop yang tebal, berat, dan baterai boros mungkin akan bergeser. Ya, seperti lirik lagu Adele yang terkenal, Someone Like You, “You know how the time flies. Only yesterday was the time of our lives….” Hidup sekarang sudah sangat berbeda dengan kemarin. Selamat datang ultrabook.
Jan
24
Ketika mendengar kabar bahwa Eastman Kodak Co. mengajukan permohonan perlindungan kepailitan pekan lalu, saya teringat pada satu buku menarik yang ditulis oleh Jagdish N. Sheth. Buku ini ditulis oleh guru besar kompetisi global di Goizueta Business School at Emory University, AS, tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan seorang eksekutif perusahaan kepadanya. Pertanyaan yang membuat Sheth penasaran untuk mencari tahu jawabannya itu berbunyi seperti ini: “Mengapa perusahaan bagus bisa gagal?”
Karya yang berjudul The Self Destructive Habits of Good Companies (edisi Indonesianya: 7 Tanda Kehancuran Bisnis Sukses, Gramedia, 2008) ini memaparkan kebiasaan-kebiasaan buruk perusahaan sukses yang menyeret mereka ke dasar jurang. Banyak di antara 62 perusahaan yang dipuji-puji Tom Peters dan Robert Waterman dalam buku laris mereka, In Search of Excellence (1982), ternyata mengalami kesulitan serius dalam dua dekade terakhir, termasuk ikon bisnis AS seperti AT&T, Xerox, dan Kodak.
Sebagian di antara perusahaan itu mampu bangkit kembali. Ada yang tengah berusaha keras memulihkan diri ketika buku ini ditulis pada 2007. Lainnya kemungkinan besar bangkrut. Apa saja kebiasaan buruk yang membuat perusahaan sukes ini merosot tajam?
» baca selengkapnya
Jan
23
Siapa tak kenal Kodak? Namanya bukan hanya jadi merek produk film, tapi pernah menjadi nama generik untuk kamera. Banyak orang di negeri ini yang menyebut kamera dengan Kodak. “Kodakmu merek apa?” adalah pertanyaan yang lazim diajukan. Tapi itu dulu, ketika Kodak masih merajai dunia perfilman yang merekam peristiwa dalam kehidupan seseorang.

Salah satu logo yang pernah dipakai Kodak
Memang, hampir di sepanjang abad ke-20, Kodak memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan jutaan orang di muka Bumi, merekam berbagai peristiwa bersejarah, menjadi saksi berharga yang nyaris abadi. Kepada Kodak-lah, banyak orang mempercayakan “kenangan” mereka—orang zaman dulu menyebutnya ‘momen Kodak’. Orang mengabadikan acara ulang tahun, berpesiar ke pantai, atau menyaksikan huru-hara di film Kodak.
Namun kini, perusahaan yang didirikan oleh George Eastman pada 1880 itu akhirnya mencapai titik nadir. Setelah lama berjuang untuk bertahan di tengah gempuran teknologi film digital, produsen film selulosa serta kamera ini akhirnya menyerah. Manajemen Kodak memasukkan berkas permohonan perlindungan kepailitan ke pengadilan AS pekan lalu.
» baca selengkapnya
Jan
21

Bramantyo adalah anomali. Desainer muda itu, umurnya baru 28 tahun, benci dengan Facebook. Setiap kali dia jengah. Setiap bertemu dengan teman-temannya semasa kecil, dia selalu ditodong dengan pertanyaan yang membuat alisnya naik. “Apa akun Facebookmu?”
Pertanyaan yang bikin dia jengkel. “Apa salahnya tak punya akun Facebook?” kata dia dengan gusar. “Pertemanan di Facebook itu kan kebanyakan palsu. Penuh pencitraan.” Sudah lebih dari 10 tahun Bramantyo kenal Internet. Tapi, dia tak pernah tergoda untuk membuka akun Facebook. Alasannya sederhana, “Saya ingin berinteraksi secara langsung,” ujarnya.
Bramantyo adalah sebuah fenomena anti-Facebook yang kini diam-diam muncul. Di Indonesia, saat 35 juta orang Indonesia tergila-gila kepada situs buatan Mark Zuckerberg itu–sampai-sampai Indonesia menjadi negara nomor 2 pengakses Facebook terbanyak sedunia–Bramantyo justru bersikap sebaliknya.
Orang-orang seperti Bram ini ternyata jumlahnya cukup banyak. Bahkan, di Amerika Serikat, negara lahirnya Facebook, juga merebak orang yang anti-Facebook. Tyson Balcomb adalah contohnya. Dia memutuskan berhenti memakai Facebook, setelah tak sengaja bertemu dengan perempuan yang tak pernah dia kenal di dunia nyata. Pertemuan itu berlangsung di lift. Meski tak kenal, dia tahu semua hal tentang tetangganya itu–wajah saudaranya, asal kelahirannya yang dari pinggiran Washington, sampai berapa kali perempuan itu berkunjung ke Seattle. Semua itu dia ketahui lewat Facebook.
“Saya tahu semuanya meski tak pernah berbicara dengannya,” kata Balcomb.
Pertemuan tak terduga itu justru menyadarkan dia, betapa Facebook telah membuatnya “gila”. “Cara seperti ini tak sehat,” ujarnya.
» baca selengkapnya